Showing posts with label anak santri kiri. Show all posts
Showing posts with label anak santri kiri. Show all posts

Thursday, February 23

Jum'at Berkah Jangan Dinodai

Hari dimana saya menulis ini adalah bertepatan dengan hari jum'at, yang merupakan salah satu hari besar ummat muslim di seluruh dunia. Hari jum'at juga merupakan salah satu hari yang sakral bagi ummat muslim, tidak heran jika aksi bela islam 114 dan 212 bertepatan dengan hari jum'at. 7 juta penduduk indonesia memadati jalan ibu kota negara, memadati monomen mandala jakarta demi memenuhi nafsu serakah politik, meskipun banyak ummat muslim pada aksi itu meramaikan hanya karena ingin umat islam bersatu, bukan diplintir untuk menjatuhkan salah satu lawan politik karena alasan beda iman. tapi, tidak banyak juga yang ikut adalah bohong telah taat kepada tuhannya.
Bagikan Ki Bro:

Wednesday, January 25

Mengapa Mahasiswa Rantau Sering Pulang Kampong?


Sebelumnya, saya pernah menulis soal aktivitas mahasiswa yang hanya tahu soal Kampus, Kos, Kampung atau biasa di singkat menjadi 3 “K”. Dalam tulisan saya sebelumnya, yang berjudul “Mengapa Mahasiswa Rantau Sering Pulang Kampung” memiliki keterkaitan yang sangat padat, shingga boleh dikatakan bahwa tulisan ini adalah mengulang tulisan saya sebelumnya.
Bagikan Ki Bro:

Sunday, January 8

Daripada Pusing dengan Pilkadal, Mending Orasi Politik

Orasi Politik 
Saat-saat sekarang ini, dengan issu yang tidak mendidik kemudian di konsumsi oleh sebagian besar rakyat yang tidak tahu menahu dan tidak mau berfikir panjang untuk menganalisis setiap issu yang di pertontonkan di media-media kita, oleh pelaku politik borjuasi. Seakan-akan setiap issu yang diangkat oleh media massa, merupakan keyataan yang benar-benar nyata (in fack) terjadi tanpa tidak adanya sebab akibat yang lebih jauh lagi, bahwa semuanya telah di setting dengan sangat rapih, untuk mengilusi gerakan rakyat dari kesenjangan sosial rakyat dan krisi ekonomi.


Bagikan Ki Bro:

Friday, January 6

Kampus, Kos, Kampung (3K) Mahasiswa

Seseorang yang memilih keluar daerah menuntut ilmu biasanya disebut sebagai mahasiswa rantau, dan jika sudah jadi mahasiswa rantau tentunya akan memilih ngekos sebagai tempat tinggalnya. Memilih merantau menuntut ilmu biasa didasari atas kemauan sang orang tua yang menginginkan anaknya kuliah di peguruan tinggi yang jauh lebih berkualitas ketimbang kuliah di daerah sendiri.

Bagikan Ki Bro:

Tuesday, January 3

Kampus, Kost, Kampung


Pada saat saya masih kuliah S1, saya pertama kali mendengar istilah ini dari senior saya dari kampung. Ketika itu, senior saya memberikan satu wejangan-wejangan khasiatnya kepada penerus-penerusnya yang akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa,
Bagikan Ki Bro:

Saturday, August 20

Kenaikan Harga Rokok untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ?


Image result for bea cukai rokok tidak naikBaru-baru ini banyak diberitakan di media online, sosmed, jika harga rokok akan naik. ada yang bilang bulan depan (september 2016), ada juga yang mengatakan tahun depan (2017), entah yang mana yang benar informasinya. Harga rokok akan di rencanakan naik dari Rp 20.000/bungkus, menjadi Rp 50.000/bungkusnya. Hal ini tentu menghebohkan para pecinta rokok yang berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah perokok sebanyak 58 juta orang lebih sebagai perokok aktif, mulai dari usia 10 tahun ke atas. dan setelah saya mendengar berita ini, saya langsung ngecek di beberapa media, baik media elektronik, maupun media online, dan benar, issu soal kenaikan harga rokok akan naik 50 ribu per bungkusnya. namun itu baru issu, dan saat ini pihak Bea Cukai lagi mengkaji issu kenaikan harga rokok, apakah menguntungkan atau tidak bagi ekonomi indonesia.


Soal issu akan dinaikkannya harga rokok tersebut, bagi saya, bukan menjadi soal, mau di naikkan atau di turunkan, itu terserah produsen rokok, pemerintah pun jika mau menaikkan pajak rokok, tak jadi masalah juga, toh akan ada pasti alternatifnya bagi perokok, hehehehe..! dengan adanya issu ini pula tentu sangat menarik untuk dibahas dalam situasi gerak ekonomi indonesia yang melemah beberapa tahun belakangan ini, hal ini terhitung pasca krisis ekonomi dunia tahun 2008, dan kini indonesia masih memutar otak, mengotak-atik kabinetnya, untuk menstabilkan ekonominya dalam cengkraman pasar bebas dunia. siapa suruh ikut pola ekonomi pasar bebas, kalo ujung2nya mengorbankan rkayat indonesia, menjual kekayaan milik 250 juta rakyat indonesia. seharusnya, jika pemerintah ini ingin membaik ekonominya, tentunya ada satu hal yang harus dilakukan, yaitu meng-nasionalisasi semua aset vital, seperti perusahaan tambang (minyak, emas, nikel, batu bara, air, dll), kalo ini semua dikuasai laju pertumbuhan ekonomi indonesia akan menjadi jawara dunia, dan menaikkan harga rokok pun tidak penting sebagai alternatif mengejar pertumbuhan ekonomi indonesia.

Menaikkan harga rokok bukan menjadi salah satu solusi mengejar pertumbuhan ekonomi negara pada situasi krisis ini, jika pun ini akan terus dilakukan oleh pemerintah, maka akan ada penurunan pendapatan negara secara signifikan. pendapatan negara pada sektor rokok, pihak bea cukai mencatat ada Rp 150 T penerimaan bea cukai rokok tahun 2015 kepada negara. alasan lain juga dengan menaikkan harga rokok tersebut, adalah dikarenakan banyaknya orang terkena penyakit berbahaya karena merokok, bahkan sampai meninggal dunia gara-gara mengkonsumsi rokok. alasan ini juga bagi tidak sama sekali tidak beralasan. sampai sekarang belum ada data valid mengenai angka pengidap penyakit berbahaya dara-gara mengkonsumsi rokok, dan sampai saat ini juga belum ada yang mati saat merokok. jika kita mau hitung-hitungan bahaya kimiawi, masih banyak yang lebih berbahaya dari pada rokok, misalnya pupuk kimia, narkoba, makanan, dan minuman instan, dan masih banyak lagi. jadi, alasan ini, bagi saya, tidak meyakinkan kevalidan datanya.

Jika target, pemerintah, dan para haters perokok, adanya kenaikan harga rokok untuk menurunkan konsumsi rokok di indonesia, sama sekali bukan strategi jitu, jika mau perokok di indonesia gak merokok lagi, sebaiknya pemerintah tutup pabrik rokok, hentikan inpor rokok. langkah itu pasti akan lebih jitu, tapi pertanyaan kemudian adalah, apakah pemerintah berani mensabotase peredaran rokok? tentu pemerintah tidak akan berani, karena ekonomi negara kita tergantung dari pajak, bukan pada sektor industri kuat. kenapa malaysia dan beberapa negara lainnya yang menaikkan harga rokoknya, itu karena industri mereka sudah kuat, beda dengan indonesia yang borjuasinya penakut dan penjilat, tahunya cuman jual aset negara.

Jadi, kesimpulan, dengan adanya issu kenaikan harga rokok, tidak akan berdampak signifikan pada kurangnya orang perokok di indonesia, bukan menjadi solusi bagi pertumbuhan ekonomi indonesia, dan akan memperpanjang antrian pengangguran. jadi, sebaiknya pemerintah kuatkan industri nasional, nasionalisasi semua perusahaan miniral, hentikan hutang luar negeri. itu saja dulu, gak usah banyak-banyak.., solusi yang saya tawarkan pun saya yakin 1000% pemerintah tak akan berani, karena pemerintah kita akan lebih mementingkan kepentingan pengusaha dari pada rakyatnya. pertumbuhan ekonomi bukan untuk kesejahtraan rakyat, namun tuk membayar bunga utang luar negeri. silahkan pikir..!


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Thursday, June 30

Bulan Ramadhan adalah bulan perlawanan




Bulan Ramadhan adalah bulan perlawanan

Mungkin sebagain besar kaum muslimin yang menjalankan rukun islam yang ke IV yaitu “berpuasa dibulan Ramadhan” dan juga merupakan kewajiban setiap kaum muslimin yang telah diwajibkan untuk puasa. Berpuasa dalam pengertian umumnya adalah berjuang menahan lapar dan haus serta hawa nafsu, hal ini menhasilkan penafsiran bagi ahli tafsir yang sangat kompleks dan menemukan beberapa ragam pendapat diantara para toko dan pemuka agama. Hal ini terlihat wajar karena butuh pendalaman dan pengalaman Nabi Muhammad dalam menjalankan ibada puasa. 

Bulan ramadahan, selain menjadi ujian bagaimana kita bisa menahan lapar, dan haus serta hawa nafsu, juga menjadi sejarah perlawanan kaum muslimin dalam menyebarkan kebenaran, serta membebaskan manusia dari penindasan. Ada beberapa catatan sejarah perlawanan nabi semasa hidupnya di bulan ramadhan, hal ini lah yang kemudian menjadi pokok pembahasan dalam tulisan ini, agar kita paham dan mengenal bahwa bulan ramadhan adalah merupakan bulan perlawanan. Berikut ulasan tentang perlwanan yang bertepatan dengan bulan ramadhan. 

Sejarah menunjukkan, kaum Muslimin sejak masa Rasul SAW banyak melakukan jihad dan perjuangan di bulan Ramadhan. Berbagai kemenangan besar dan gemilang juga dikaruniakan oleh Allah kepada kaum Muslimin pada bulan Ramadhan, kemenangan-kemenangan yang mengubah jalannya sejarah peradaban umat manusia. 

Kewajiban puasa Ramadhan diturunkan oleh Allah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H. Sebulan kemudian Rasul dan para sahabat menunaikan kewajiban puasa Ramadhan untuk pertama kalinya. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H itulah di medan perang Badar al-Kubra, Rasul dan para sahabat yang berjumlah 315 orang berperang melawan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 1.000 orang.

Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin dalam perang itu. Pada Ramadhan tahun ke-5 H, dilakukan persiapan perang Khandaq atau perang Ahzab melawan pasukan sekutu antara Quraisy dan Ghathafan. Pada tanggal 20 Ramadhan 8 H, Rasulullah SAW dan para sahabat berhasil membebaskan Mekah. Pada bulan Ramadhan itulah, Ka’bah, Mekah dan sekitarnya dibersihkan dari berhala dan kesyirikan. Pada Ramadhan 9 H, Rasul dan para sahabat melakukan perang Tabuk. Pada bulan itu pula, utusan Bani Tsaqif di Thaif datang menghadap Rasul SAW menyatakan keislaman mereka. Pada Ramadhan 10 H, Rasul SAW mengutus Ali bin Abi Thalib membawa surat dan menyampaikan dakwah ke Yaman khususnya kepada Bani Hamdan dan dalam satu hari, penduduk Bani Hamdan menyatakan keislaman mereka. 

Daftar perjuangan dan jihad serta kemenangan kaum Muslimin setelah masa Rasul masih panjang. Pada Ramadhan 15 H, kaum Muslimin dipimpin Sa’ad bin Abi Waqash meraih kemenangan di perang Qadisiyah melawan pasukan jenderal Persia, Rustum, dan menjadi pintu pembebasan ibukota Persia al-Madain dan seluruh Persia. Pada 14 Ramadhan 31 H, kaum Muslimin dipimpin oleh al-Mutsanna meraih kemenangan di perang al-Buwaib “dekat kota Kufah saat ini”. Pada Ramadhan 92 H, Thariq bin Ziyad bersama pasukan kaum Muslimin berhasil membebaskan Andalusia (Spanyol). Lalu, pada Ramadhan 223 H, Khalifah al-Mu’tasim Billah menjawab teriakan minta tolong seorang muslimah yang dinodai pasukan Romawi dan Amuriyah, benteng pertahanan terkuat Romawi Bizantium di Asia kecil pun dibebaskan. Berikutnya, pada 25 Ramadhan 658 H, kaum Muslimin dipimpin oleh Saifuddin Qutus berhasil mengalahkan Tatar dalam perang ‘Ayn Jalut. Dan pada Ramadhan 791 H, kaum Muslimin berhasil membebaskan Bosnia Herzegovina. Dan masih banyak daftar jihad, perjuangan dan kemenangan yang diperoleh kaum Muslimin di bulan Ramadhan.
Harus diingat bahwa perjuangan rasulullah dan para sahabatnya merupakan perjuangan melawan sistem perbudakan yang tengah ditegakkan dibanyak negeri budak. Pembebasan manusia dari sistem penindasan yang disebut sebagai perbudakan dan di dorong menjadi pengikut islam sebagai suatu solusi dari sistem perbudakan yang menindas itu. Dan harus diingat juga bahwa pada masa kehidupan rasulullah adalah masa dimana perbudakan disemua negeri terjadi. Dan selama bulan ramadahan nabi tidak henti-hentinya mengorganisir massa untuk keluar dari sistem perbudakan. 

Nah, bagaimana dengan masa sekarang? Dimana bulan ramadhan hanya dijadikan sebagai bulan untuk bermalas-malasan, bulan dimana harga bahan pokok semuanya naik, bulan dimana hanya dijadikan seremonial rukun islam tanpa melihat sejarah panjang perjuangan islama pada rasullah dam membebaskan kaum tertindas. 

Sekarang ini, bulan ramadhan merupakan momentum para pelaku pasar bebas mearauk keuntungan dari kesibukan umat muslim menjalankan ibada puasa, tanpa melihat bahwa kita masih tertindas dan kita harus keluar dari sistem penindasan tersebut. Kritikan akan melonjaknya harga bahan pokok tidak kita temukan, bahkan pasrah-pasrah saja karena katanya momentumnya. Tetappi masih banyak saudara kita yang hidup dalam kemiskinan tambah sengsara dengan kenaikan harga-harga. Secara ekonomi mereka tidak mampu dan mengandalkan sedekah bagi-bagi sembako para kaum munafik yang memanfaatkan bulan puasa sebagai jalan meredam amarah klas tertindas, dan menina bobokan rakyat atas realita kehidupan yang semakin suram ini.

 

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Saturday, February 21

Info Tentang Dunia Mancing


Salam Strike  

beberapa hari ini aku menjadi suka mancing ikan, kebetulan di tempat saya tinggal ada tiga rawa besar yang dihuni para ikan nila. dari tiga rawa besar itu hanya ada dua rawa yang umum orang bisa memancing, soalnya rawa satu ini ada pemiliknya dan dijaga ketat, jika ingin memancing di rawah miliknya kita harus minta izin dulu baru bisa kita mancing ikan dirawa tersebut. kita lupakan saja yang rawa ini, kita beralih kerawa yang umum bisa kita mancing disana dengan bebas, dan ikannya juga tak kalah dengan rawa berpemilikan itu..
Bagikan Ki Bro:

Monday, September 1

Pendidikan Vokasi Dalam Menghadapi Neo-Liberalisme di Indonesia

Oleh: Bustamin TaTo
Baru-baru ini bertepatan dengan hari ulang tahun ke 50 Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, yang dirangkaikan dengan seminar nasional dengan tema “Optimalisasi Peran Pendidikan Vokasi Dalam meningkatkan Daya Saing Global”. Dalam seminar tersebut dihadiri oleh Prof. Slamet PH.,M.A.,M.Ed.,M.A.,MLTR.,Ph.D., (waoo..banyak sekali titel-nya) sebagai pembicara mengenai pendidikan vokasi di Indonesia dan Dr. Agung Budi Susanto seorang praktisi dalam pengembangan sekolah kejuruan di Indonesia. Ada yang menarik dalam seminar tersebut mengenai kemajuan pendidikan yang didorong untuk menyesuaikan diri dengan dunia
Bagikan Ki Bro:

Wednesday, August 27

"Playing Game" pada Komputer/Laptop adalah “Candu”

Gambar diambil dari suara-islam
Sudah beberapa hari ini, saya tinggal di kampong halaman bernama desa batetangnga, saya pulang kampong untuk mengisi hari libur kuliah beberapa minggu, dan sekaligus berkunjung ketempat kawan-kawan seperjuangngan saya di organisasi gerakan. Sesampainya saya disana, saya pun berkunjug kesekretariat yang bertempat di rumah salah satu anggota organisasi juga, saya kesana untuk melihat aktivitas kawan-kawan. Harapannya saya sesampai disana nanti, mudah-mudahan bisa
Bagikan Ki Bro:

Monday, August 25

Cerpen: Perjalanan ke Tanah Kelahiran


Pancaran sinar matahari pas terpantul pada wajah saya. ketiga itu, suasana masih pagi, sekitar jam 09:00 waktu indonesia bagian timur, saya terbangun karena pancaran matahari, dan memang cuaca sudah mulai panas dan saya harus bangun, saya duduk sejenak mengendurkan kembali otot yang kaku karena tertidur pulas, yah, bisa dikatan sebagai pemanasan untuk siap beraktivitas kembali, saya duduk disofa disamping kamar saya, saya pun melihat ada suatu box diatas sofa, kucoba memeriksanya, kulihat alamat yang tertempel dibagian box itu ternyata atas nama saya, oh, aku baru ingat,
Bagikan Ki Bro:

Sunday, August 24

Masjid Sebagai Tempat Bersatunya Kaum Muslim

Tidak bisa dipungkiri, masjid adalah salah satu tempat suci umat muslim di seantero nusantara, bahkan seluruh dunia. Ketika adzan berkumandang di masjid, sebagai bentuk panggilan sakral untuk berkumpul melaksanakan kewajiban seperti shalat tapi, bukan hanya itu, shalat hanya sebagian kecil alasan untuk kita melangkahkan kaki ke masjid, tapi ada yang paling urgen yaitu; diskusi, konsolidasi dengan sesama muslim.
Bagikan Ki Bro:

Saturday, August 16

Merdeka-kah kita? Renungan HUT RI ke 69


Hari ini, seluruh wilayah yang menyatakan sikap berbangsa dan bertanah air satu, tanah air Indonesia memperingati Hari Ulang tahun ke 69 atau Memperingati hari kemerdekaan Negara republik Indonesia dari penjajahan Negara lain. Setiap tahunnya kita memperingati kemerdekaan ini dengan memasang umbul-umbul merah putih di setiap rumah. Ada berbagai macam partisipasi rakyat Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan ini seperti, membuat petandingan, mengibarkan bendera merah putih di halaman rumah, bahkan sampai pada mengikuti upacara kemerdekaan yang diagendakan di daerahnya.
Bagikan Ki Bro:

Friday, August 15

Keluh Kesa Mahasiswa Pascasarjana

“Berhentilah mengeluh karena, keluh itu pilu”
Sepenggal lirik lagu yang sering di nyanyikan oleh mahasiswa yang selalu melihat sesamanya mahasiswa yang selalu mengeluh tapi, tidak responsive dalam bentuk tindakan apa yang menjadi keluhannya, begitupun kemungkinan yang terjadi pada saya dan teman saya yang juga berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada dimakassar. Keluh kesah yang dikeluhkan teman saya itu adalah soal mata kuliah tambahan yang disebut
Bagikan Ki Bro:

Wednesday, August 13

Kuliah di Makassar Sama Dengan “Gagal”


Tujuan saya menulis ini bukan untuk menjatuhkan harapan, dan semangat orang yang ingin melanjutkan studinya di perguruan tinggi di Makassar tapi, hanya sebatas unggkapan ketidak setujuan saya terhadap stamen seorang teman lama yang beranggapan bahwa kuliah di Makassar itu adalah orang-orang yang gagal. Gagal yang dimaksud salah satu teman lama ini adalah gagal karena mungkin kembali kekampung halamannya, atau gagal karena tidak mampu membangun kampong kelahirannya dengan sekian banyak harta yang
Bagikan Ki Bro:

Situasi Nasional Sistem Pendidikan Indonesia 2014

gambar diambil dari nurulazmiyafie.wordpress.com
Disusun oleh Bustamin Tato

Penyusunan tulisan ini merupan bahan diskusi dari kongres Forum Komunikasi Siswa Progresif yang telah dilaksanakannya pada tanggal 10 agustus 2014 kemarin, dan merupakan bahan dasar dari analisa situasi pendidikan Indonesia oleh kawan FKSP, dan juga tulisan ini diambil dan dikutive dari beberapa sumber, baik media on line seperti web, dan blog maupun media cetak.
Bagikan Ki Bro:

Tuesday, August 12

Segelas Kopi Menyambut


Hari selasa kemarin, hari keberangkatan saya ke Makassar, kota seribu macam perkara, suatu kota yang memiliki jumlah jutaan buruh yang belum berserikat, banyak yang berserikat tapi, serikat bentukan pengusaha dan disnaker yang notabene tidak berpihak pada kepentingan buruh. Dalam perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya sampai juga di kost-kosan saya, wah., ternyata banyak mahasiswa baru numpang disini. Mereka satu kampong dengan saya dan mereka ingin melanjutkan studinya di kota daeng, mereka juga sebagian besar adalah anggota Forum Komunikasi Siswa Progresif . FKSP adalah merupakan suatu organisasi siswa yang
Bagikan Ki Bro:

Monday, August 11

Teologi Pembebasan dan Kaum Kiri di Batetangnga


Bustamin

Menurut Asghar Ali Engineer, seorang tokoh teologi pembebasan islam dan bukunya “Islam and Liberation Theology” berpendapat bahwa teologi pembebasan adalah;
“Pertama, dimulai dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Kedua, telogi pembebsan dalam islam tidak menginginkan satus quo yang melindungi golongan  kaya yang
Bagikan Ki Bro:

Friday, August 8

Dibayar Kurang, Mereka Enggan Berceramah?


tulisan ini dikutip dari kompasiana.com yang di tulis oleh Hendra WardhanaTerjawab sudah rasa ingin tahu saya selama ini mengenai kecenderungan sejumlah ustadz tenar yang wara-wiri muncul di TV dengan mematok bayaran mahal tertentu. Memang semua orang apalagi mereka yang berkarya berhak meminta hak atas tenaga, karya dan pikiran yang telah mereka keluarkan. Namun jika itu seorang ustadz yang bertugas sebagai pendakwah ?. Jawabannya mungkin beragam.

Adalah Teras Tina Talisa, sebuah program talk show di Indosiar tadi malam yang menjawab itu semua. Acara semalam menghadirkan tiga pendakwah yang terdiri dari seorang ustadzah dan dua orang ustadz. Nama mereka tak usah saya sebutkan, saya yakin banyak juga yang menonton, mereka juga cukup intens muncul di TV apalagi di bulan Ramadhan ini.

Seorang dari tiga pendakwah itu berpendapat kalau seorang ustadz harus “camera face” sementara dua yang lain menjawab tidak. Masih ustadz yang sama, dia bersedia dipanggil secara mendadak untuk berceramah menjelang berbuka meski harus meninggalkan buka bersama keluarganya. Sementara dua yang lain tidak bersedia. Lalu ustadz yang bersedia tersebut mengemukakan panjang lebar alasannya lengkap dengan dalil-dalilnya. Di sinilah saya merasa aneh dengan penjelasan beliau. Maaf, saya tidak meragukan ilmu agama beliau, apalagi dibandingkan saya yang tidak ada apa-apanya. Namun saya merasakan penjelasan beliau seolah “menyalahkan” pilihan kedua rekannnya. Memang berbeda pendapat itu boleh dan wajar, namun tetap saja terasa aneh karna ini tentang sebuah kasus yang sama dan dipandang berbeda oleh mereka. Sebagai informasi saja, ustadz ini beberapa waktu lalu pernah muncul di infotainment terkait kontroversinya yang meminta uang muka dibayar terlebih dulu jika ada jamaah yang ingin mengundangnya.
Tapi sebenarnya bukan itu yang paling mengejutkan saya. Sebuah pertanyaan dari Tina Talisa yang harus dijawab dengan cepat oleh ketiga pendakwah itu menghasilkan jawaban yang bagi saya mengagetkan.“Bersedia diundang tapi budget (pengundang) kurang?”. Ketiganya kompak menjawab “TIDAK”. Selama ini sebagian dari kita mungkin sudah berfikir kalau pendakwah-pendakwah yang biasa muncul di layar kaca tentu tak bisa dipanggil dengan biaya sedikit. Namun saya belum pernah mendengar jawabannya langsung dari mereka. Dan semalam akhirnya terklarifikasi sudah pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka memang mematok tarif tertentu. Lebih jelas lagi, mereka TIDAK MAU jika bayarannya kurang atau tidak sesuai dengan tarif yang dikehendaki.
Saya termenung sebentar. Salahkah telinga saya?. Ternyata tidak. Lantas apa alasan mereka memilih demikian ?. Menurut mereka sebagian bayaran itu nantinya akan mereka salurkan untuk kegiatan sosial seperti menyantuni anak yatim. Oleh karena itu meskipun dinilai bayarannya mahal, sebenarnya itu bukan untuk diri mereka sendiri semata.

Sungguh mulia niat dan pikiran mereka. Tapi jujur saja, benak hati saya sampai tulisan ini dibuat masih saja bertanya dan mencoba menemukan rasionalitas jawaban mereka semalam. “Apa karena harus menyantuni anak yatim, mereka lalu meminta bayaran tinggi lalu menolak jika bayarannya kurang?”. “Apa itu berarti mereka mengakui mereka tidak akan bisa menyantuni anak yatim jika bayaran dakwahnya kurang?”. Entahlah, semoga saja bukan itu yang terjadi karena sebelumnya mereka sepakat kalau berdakwah itu panggilan hati, bukan pekerjaan mengais nafkah. Lagipula, mahal atau murah, kita harus mengakui mereka telah berperan dalam mencerahkan umat termasuk kita. Tapi saya masih saja kepikiran jawaban “TIDAK” dari mereka.

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Wednesday, August 6

Bangga di Cap Sebagai Kaum “Kiri”

Sebelum sangat jauh membahas apa yang menjadi konskwensi menjadi seorang bagian dari kelompok kiri, tentunya kita runut dulu sejarah istilah kiri yang menyeramkan ini. Awalnya terminologi kiri dan kanan digunakan untuk menunjukkan afiliasi politik seseorang di awal era Revolusi Prancis. Asal muasalnya sangat sederhana, cuma soal tempat duduk para anggota legislatif di Prancis sana pada tahun 1791. Waktu itu, raja masih jadi kepala negara [dalam konteks formal], dan pendukung kerajaan yang konservatif (kaum Feuillants) duduk di sebelah kanan ruang sidang legislative, sedangkan kelompok radikal (kaum Montagnards) duduk di sebelah kiri ruangan. Pemisahan ini menjadi bentuk keberpihakan antara dua kelompok pada rezim lama, maka pada waktu itu kelompok “kanan” yang kemudian mendukung para kaum aristocrat dan keluarga kerajaan, sedangkan kelompok “kiri” dianggap sebagai kelompok yang ber-oposisi dari kaum aristocrat kekerajaan.  Sehingga dalam perjalanannya pertentangan-pertangan antara si “kanan” dan si “kiri” merambah pada epistemology atau falsafah hidup manusia dalam menata masa depan umat manusia.

Tokoh filusf “kiri” yang telah dibahas dalam salah satu buku Listiono Santoso, dan kawan-kawannya yang berjudul “Epistemologi Kiri” tokoh kiri itu dimulai dari Karl Marx yang melahirkan paradigma materialism dialektika dan materialisme historis, kemudian dilanjutkan oleh Freedrich Wilhelm Nietzsche yang mendokonstruksi kemapanan dan juga kehendak untuk berkuasa (the will to power) dia mengatakan bahwa manusia itu akan menjadi agung ketika memadukan secara harmonis dari tiga hal yaitu; kekuatan, kecerdasan, dan kebanggaan. Tikoh selanjutnya dicap sebagai “kiri” yaitu Antonio Gramsci yang hidup pada pemerintahan fasis italia Benito Mussolini sehingga gramsci pada waktu itu di dipenjarah karena mengkritisi dan merupakan penghalang jalannya pemerintahan fasis, dalammagnum opus, prison notebook, dia melancarkan kritikan dan rekonstruksi mainstreampemikiran yang tengah berkembang, sedangkan teori termasyhur yang di hasilkan dari penjara fasis adalah teori tentang “Hegemoni”. Selanjutnya ada juga tokoh islam seperti; Mohammad Arkoun yang melakukan rekonstruksi terhadap Al-Qur’an dengan nalar kritis. Arkoun mengkritik tradisi ortodoks yang didominasi oleh logosentrisme dan juga mengkritis objektivisme dan positivisme, Hassan Hanafi (penggagas Islam Kiri), dan Asghar Ali Engineer, yang menggunakan “Teologi Pembebasan”nya sebagai inti dari pemikirannya[1]. Dari beberapa tokoh diatas yang dikenal sebagai orang-orang “kiri” yang begitu getol mengkritisi kemapanan,penindasan dan penghisapan manusia dengan manusia lainnya diatas muka bumi hanya menjadi sebahagian dari jutaan kaum “kiri” yang tersebar di dunia yang sedang melawan mainstream penghambaan atas individualism. Pengertian tentang apa itu “kiri” sudah tergambar jelas, “kiri” bisa dianggap sebagai kelompok yang kritis terhadap keadaan yang melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan. Nah…! Ketika sudah ada gambaran tentang apa itu kiri dan dari mana asal muasalnya, kini kembali focus pada pembahasan  tentang apa yang akan menjadi konsekuwensi sebagai kaum “kiri” yang berbahaya itu? Mari kita lanjutkan.

Tentunya, dalam perjalannya menentang kemapanan diatas dunia, melawan kaum aristocrat penghamba para raja-raja (feudal) sudah tentu tahu apa yang akan menjadi konsekwensinya dengan melawan kekuasaan, baik kekuasaan secara politik, maupun ekonomi. Seperti yang terjadi pada tokoh revolusioner Karl Marx yang di kucilkan dari kehidupan social, ditangkap karena dianggap melawan penguasa, dan tentunya masih banyak konsekwensi dihadapan kita seperti kehilangan harta benda, keluarga, dan bahkan sampai pada nyawa kita sendiri.

Sebenarnya, bentuk awal dari ide saya ini untuk membuat sedikit catatan tentang kaum “kiri” yang ada di kampong halaman saya, yang juga selalu mendapatkan tekanan dari beberapa kalangan yang boleh dianggap konservatif, Fundamentalis, dan positivism. Isu tentang komunisme telah terngiang kembali di teliga masyarakat, dengan keberhasilan propaganda hitam rezim orde baru atas pembunuhan massal 1965 dan telah menjadi pelanggaran HAM terberat di dunia, yang kemudian Partai Komunis Indonesia (PKI) dituduh sebagai dalang dari pembantaian tersebut masih berbekas di ingatan mereka bahwa PKI-lah yang bersalah dan patut mendapatkan ganjaran sampai pada keturunan-kerurunannya, kasihan..., tuhan memang maha adil! Diskriminasi dari pemerintah dan didukung oleh militer, maka hukuman atas keterlibatan dalam G 30 S itu masih berlaku, didesa saya, ada seorang anak yang berketurunan seoarang gerilya komunis sang pembantai itu tidak diperkenankan masuk dalam kemiliteran Republic Indonesia. Jika kasus ini di cerita akan panjang jadinya, jadi saya ingin membuat tulisan baru menyoal persoalan ini dilain waktu. Kembali pada persoalan konsekwensi sebagai kaum “kiri” yang menakutkan itu.

pada malam kamis waktu itu, semasih saya liburan lebaran di kampong halaman, sekaligus menyempatkan waktu luang untuk berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangan yang dianggap kaum “kiri” dari desa, menyampaikan keadaan mereka yang menjadi perbincangan pada kalangan fundamentalis, dituduh gerakan yang mentok dan tidak akan menghasilkan apa-apa, dianggap sebagai orang gagal dan jauh dari ke”suksesan” dan anehnya lagi, orang yang menuduh mereka sebagai bentuk gerakan “mentok” adalah eks anggota organisasi kiri dimakassar sewaktu dia kuliah dulu, kata dia “menjadi seorang marxis, hanya ada pada waktu kuliah toh saja, ketika selesai kuliah maka merubahlah ideology tersebut” dan juga menyampaikan konsep pemikiran marx yang mengindikasikan bahwa “saya tahu teori itu, tapi, saya hanya sebatas tahu, dan semua itu adalah salah”. Satu kata yang saya garis bawahi dari curahan hati sang kawan yang telah dipojokkan oleh seorang mantan aktivis ketika masih mahasiswa dan sekarang sibuk membentuk perkampungan bahasa inggris dan hidup dari perkampungan itu dengan bianya member-nya Rp 400.000 per bulannya, kata itu adalah “kesuksesan”.

Kata kesuksesan dalam artian sekarang adalah mengarah pada berapa besar penghsilanmu tiap harinya, tiap minggunya, dan tiap bulannya, dan menjadi seorang dicap sebagai “kiri” tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali penyesalan. Jika kita berfikir dengan standar fikiran kita sebagai seorang yang belum mengerti apa dasar kita hidup maka kata seorang direktur di lembaga pendidikan bahasa inggris itu “benar” tapi, ketika memikirkan kata itu diluar dari pemikiran individualistic, kapitalistik, maka pernyataan itu dianggap “kurang tepat”. Mari kita bercerita sedikit tentang Perjuangan.                    

Dalam perjuangan tentunya banyak konskwensi, dan segala bentuk atau cara mempertehankan hidup, adalah perjuangan. Saya ingin mulai dari seorang revolusioner dari argentina, Che Guevara; seorang dokter yang mungkin kita fikir bahwa menjadi seorang dokter akan lebih mudah mendapatkan uang yang banyak dengan memberikan layanan jasa terhadap orang yang menderita penyakit, kemudian kita sembuhkan lalu mendapat imbalan yang sangat besar. Tapi, kenapa Che Guevara memilih ikut berjuang bersama Fidel Castro bergerilya melawan cengkaraman kapitalisme-neoliberalisme di kuba?, Friedrich Engels seorang pengusaha sukses yang ikut memperjuangkan nasib kaum buruh merelakan bisnisnya untuk membebaskan manusia dari penindasan kapitalisme internasional bersama dengan sahabatnya Karl Marx, mengapa? Dan masih banyak tokoh “kiri” yang ada di Indonesia bisa menjadi sumber kalau pernyataan itu kurang tepat jika menganggap bahwa orang yang di cap kaum “kiri” akan jauh dari kesuksesan, malaj justru sebaliknya, kita keluar dari lingkaran itu, untuk membentuk masyarakat yang adil dan manusiawi. Jadi jangan pernah takut di cap sebagai kaum “kiri” karena itu adalah jalan yang tepat, jalan yang diridhohi seperti para nabi-nabi sebelumnya. Melawan, atau tertindas selamanya!       

Oleh: Bustamin B

Referensi: 
[1] Santoso,listiono,dkk2007 “epistemology kiri” ,Seri pemikiran tokoh, hal. 10 dan 11 

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro: