Showing posts with label Vocational Educations. Show all posts
Showing posts with label Vocational Educations. Show all posts

Friday, July 18

Tentang Aplikasi Utility






Apa arti dari sytem utilty? Aplikasi Utilities adalah tool untuk mengoptimalkan dan memperbaiki sistem yang bisa membersihkan registry dan disk, melindungi privasi, akselerasi performa, optimasi kecepatan internet, dan banyak lagi. Sebelumnya setiap kita menginstal OS pada laptop/PC kita yang secara otomatis aplikasi utility telah terpasang pada system operasi yang kita pasang seperti disk defragmenter, backup, dan system restore. Semuanya itu terdapat dalam system utility yang terdapat didalam komputer itu sendiri yang biasa disebut juga sebagai utility internal (bawaan windows). Semua fitur tersebut bisa kita temukan pada versi berbayar maupun gratisan. Satu bagian dari perangkat lunak utilitas biasanya disebut utilitas atau alat. Disini saya akan membahas dari kegunaan dan juga cara pengunaan dari aplikasi utility. Dalam pembahasan ini, bebera aplikasi utility eksternal (bukan bawaan windows) seperti Glary utility (www.glarysoft.com), CCleaner (www.piriform.com/ccleaner), dan TuneUp Utility, SystemSuite, BoostSpeed, System Mechanic Professional (SMP), Advanced System Optimizer (ASO), Advanced SystemCare, Registry Cleaner, dan masih banyak yang lain.



untuk download file lengkapnya silahkan klik link ini tentang aplikasi utility mudah-mudahan bermanfaat bagi pengunjung.

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Monday, July 14

KOMENTAR 16 PRISNSIP PROSSER TENTANG PENDIDIKAN VOKASI

I.             PENDAHULUAN

Dr. Charles Allen Prosser (1871-1952) adalahseorang praktisi dan akademisi Amerika Serikat yang sering dianggap sebagaibapak pendidikan kejuruan, terutama di Amerika. Prosser juga adalah seorangguru Fisika dan Sejarah di New Albany High School dan mendapatkan gelar PhDdari Columbia University. Di kalangan akademisi pendidikan vokasi dan kejuruandi Indonesia, Prosser cukup dikenal sebagai penyusun 16 Prinsip PendidikanVokasi atau sering juga disebut sebagai 16 Dalil Prosser.

Prosser yakin bahwa sekolah harusmembantu para siswanya untuk mendapatkan pekerjaan, mempertahankan pekerjaantersebut dan terus maju dalam karir. Prosser yakin bahwa harus ada sekolahvokasional untuk publik sebagai alternatif terhadap sekolah umum yang sudahada. Sekolah vokasional yang dimaksud adalah sekolah yang menyediakan pelajaranuntuk berbagai jenis pekerjaan yang ada di industri. Prosser percaya bahwapendidikan vokasional di jenjang sekolah menengah atas akan mampu menjadikanpara siswa lebih independen.

Dalil atau Prinsip PendidikanKejuruan Prosser (lihat 16 Prinsip Prosser disini) sebagian besar sangat sulituntuk diterapkan dengan baik dalam sistem pendidikan kejuruan kita saat ini.Hal ini sangat menyedihkan mengingat semakin banyaknya sekolah kejuruandidirikan di Indonesia. Bahkan rasio sekolah umum vs sekolah kejuruan akansegera mencapai 30:70, suatu ledakan jumlah yang sangat besar, namun tidakdiimbangi oleh penerapan prinsip-prinsip yang benar.

Tentu saja akan timbul pertanyaanmendasar, apakah 16 Dalil Prosser ini cocok dan memang harus diterapkan dinegeri kita? Namun jika kita mau jujur dan menelaah dengan seksama ke-16 dalildan prinsip ini, maka kita pasti sepakat bahwa aspek-aspek yang dipersyaratkanini adalah memang aspek universal untuk menjadikan pendidikan vokasi menjadiefektif. Berikut ulasan singkat dengan gaya "reality check" atas apayang terjadi di Indonesia saat tulisan ini ditulis.

II.               16 Prinsip Prosser Soal Pendidikan Vokasi dan Komentar

1.     Pendidikan kejuruan akan efisienjika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika lingkungan dimana nantiia akan bekerja.

Komentar: Prinsip ini akan sangat sulit untuk bisa diterapkan diIndonesia karena pembuatan replika akan memerlukan biaya besar dan harus selalumengikuti perkembangan yang terjadi di dunia industri. Melihat keadaan sekolahkejuruan di Indonesia, sangat sulit mewujudkan prinsip ini. Hal terjauh yangbisa dilaksanakan adalah menyediakan fasilitas praktek dasar sehingga lulusannanti akan memiliki kompetensi dasar yang kuat untuk dikembangkan lebih lanjutjika sudah diterima di industri.

2.     Pendidikan kejuruan yang efektifhanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alatdan mesin yang sama seperti yang ditetapkan di tempat kerja.

Komentar: Jawaban sama dengan dalil sebelumnya. Namun jika sekolahmampu menyelenggarakan praktek kerja langsung di industri secara memadai darisisi waktu, intensitas dan dengan pengawasan yang baik, maka prinsip ini bisaterpenuhi. Dalam kenyataan sekolah kewalahan harus menempatkan siswa dalamjumlah banyak untuk melaksanakan praktek yang sesuai kurikulum langsung dilokasi industri.

3.     Pendidikan kejuruan akan efektifjika melatih seseorang dalam kebiasaan berpikir dan bekerja seperti yangdiperlukan dalam pekerjaan itu sendiri.

Komentar: Hal ini juga sangat sulit diterapkan di Indonesia karenabudaya dan lingkungan sekolah yang sangat berbeda dengan lingkungan industrisebenarnya. Idealnya sekolah bisa menciptakan kondisi yang mendukungpembentukan pola pikir dan pola kerja bagi siswanya, namun kendala terbesaradalah bahwa manajemen sekolah tidak memiliki latar belakang industri yangkuat. Hampir semua sekolah vokasi dipimpin dan diajar oleh para profesionalpendidikan yang tidak memiliki pengalaman industri cukup. Maksud latar belakangdalam hal ini adalah pengalaman bekerja dan etos kerja industri, sehinggamustahil bisa menciptakan suasana industri didalam sekolah.

4.     Pendidikan kejuruan akan efektifjika dapat memampukan setiap individu mengembangkan minatnya, pengetahuannyadan keterampilannya pada tingkat yang paling tinggi.

Komentar: Prinsip ini sudah banyak diterapkan dan berhasil di banyaksekolah kejuruan. Sistem pendidikan kita memungkinkan bagi individu siswa untukmaju dan meraih tingkat kompetensi dan keberhasilan yang setinggi-tingginya.Ini kemungkinan akibat liberalnya sistem pendidikan kita sehingga memungkinkansiswa yang memiliki potensi, rajin dan memiliki kemauan kuat dapat melajucepat. Namun hal ini juga berlaku bagi siswa yang lemah, dimana siswa sepertiini akan tertinggal jika tidak memiliki keinginan dan motivasi yang kuat untukmaju. Sistem pendidikan yang ada memberikan keleluasaan besar pada guru untukmenentukan kualitas proses pembelajaran. Guru akan cenderung memberikan prioritaspada siswa yang potensial dan aktif. Sistem kontrol pembelajaran kurang bisamemastikan pemerataan prioritas terhadap semua siswa untuk mendapat pelajaranyang sama kuantitas dan kualitasnya.

5.     Pendidikan kejuruan yang efektifuntuk setiap profesi, jabatan atau pekerjaan hanya dapat diberikan kepadaseseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya dan yang mendapat untungdarinya.
Komentar: Idealnya memang semua calon siswa yang masuk ke sekolahkejuruan sudah melewati seleksi potensi teknis dan non-teknis, sehingga siswayang masuk adalah siswa yang secara bakat dan minat sesuai dengan jurusan yangdipilih serta memiliki motivasi intrinsik yang besar untuk menjalanipembelajaran. Namun ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini kurang bisadilaksanakan di sebagian besar sekolah. Salah satu faktor penting adalah karenatidak adanya bimbingan dan konseling karir atau vokasional di level SMP sebelummasuk SMK dan juga di level SMA/SMK ke program vokasi lanjutannya. Inimenyebabkan calon siswa sekolah kejuruan tidak memiliki pengertian yang cukupmengenai dunia kerja, sehingga dalam banyak kasus terjadi ketidaksesuaian siswayang masuk ke sekolah vokasi.

6.     Pendidikan kejuruan akan efektifjika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berpikiryang benar diulang-ulang sehingga sesuai seperti yang diperlukan dalampekerjaan nantinya.

Komentar: Prinsip ini banyak diabaikan dan memang sulit untukditerapkan sepenuhnya karena banyaknya beban kurikulum sekolah kejuruan diIndonesia. Siswa tidak hanya belajar mata pelajaran teknis namun juga pelajarannormatif dan adaptif yang memakan porsi hingga 30-40% dari total waktupembelajaran. Waktu pembelajaran praktek kejuruan juga tidak bisa melaksanakankegiatan berulang karena kurangnya sarana prasarana penunjang praktek sehinggaharus bergantian dengan siswa lain. Pada saat Praktek Industri sebenarnya siswamendapat waktu panjang untuk mengulang-ulang kegiatan praktek, namun banyaksiswa terkendala dengan penempatan praktek yang tidak sesuai jurusan.

7.     Pendidikan kejuruan akan efektifjika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapanketerampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerja yang akan dilakukan.

Komentar: Prinsip ini juga sangat sulit diterapkan di Indonesia.Praktisi yang sukses tidak akan memilih dunia pendidikan sebagai pilihan karirutama mereka karena banyak faktor. Pendidik di sekolah kejuruan sebagaian besaradalah pendidik murni dengan ketrampilan teknis tingkat pemula. Solusinyaadalah dengan mendatangkan pengajar tamu dari industri ke sekolah, namun karenaterbatasnya waktu biasanya kegiatan ini hanya bisa memberi wawasan pengetahuansaja ke siswa dan tidak bisa sampai pada pemberian ketrampilan. Akhirnya memangkita harus realistis, sekolah kejuruan kita baru bisa memasok calon tenagakerja yang siap latih ketika masuk ke dunia industri. Mereka dibekalipengetahuan dan ketrampilan dasar pada bidangnya. Jika industri ingin mendapatpekerja dengan level kompetensi lebih tinggi atau lebih spesifik, mereka harusmelakukan pelatihan lanjutan secara in-company.

8.     Pada setiap jabatan ada kemampuanminimum yang harus dipunyai oleh seseorang agar dia tetap dapat bekerja padajabatan tersebut.
Komentar:Saat ini sudah ada standar kompetensi baku yang dipakai sebagai acuan di SMKyaitu SKKD dan Program Diploma banyak mengacu pada SKKNI. Hal ini sudah cukupmemadai, namun masih ada kendala dalam implementasi di lapangan seperti tidakstandarnya proses pembelajaran antar sekolah dan antar daerah dalam satu bidangkeahlian. Kesulitan lain adalah pada saat uji kompetensi yang juga tidakstandar antar sekolah dan antar daerah karena menggunakan penguji yang berbedadan tidak profesional. Seharusnya uji kompetensi dilakukan oleh satu lembagakhusus dibawah asosiasi industri tertentu, namun secara kelembagaan hal inibelum bisa diwujudkan sepenuhnya di Indonesia. Masih banyak sekolah kejuruanyang tidak bisa mendapatkan mitra penguji kompetensi yang benar-benar kompetendan layak menjadi penguji.

9.     Pendidikan kejuruan harusmemperhatikan permintaan pasar.

Komentar: Secara alamiah prinsip ini mulai berlaku dan diterapkanterutama di sekolah kejuruan yang memiliki birokrasi lebih fleksibel sepertisekolah swasta. Prinsip ekonomi supply-demand berlaku saat ini, program keahlianyang tidak dibutuhkan industri akan dengan sendirinya mendapatkan peminat yangsedikit. Jika sekolah tidak mampu menyesuaikan dengan cepat, maka besarkemungkinan sekolah akan kesulitan menjaring siswa. Namun banyak kendala yangharus dihadapi sekolah agar bisa menjadi sekolah yang mampu selalu memenuhipermintaan pasar kerja. Penghapusan program keahlian yang ada pasti akanmenimbulkan konsekuensi besar dan menimbulkan kerugian bagi sekolah. Pembukaanprogram keahlian baru juga tidak mudah karena mahal dan rumitnya persiapan.Dalam realita, banyak sekolah yang akhirnya mengorbankan kesiapanpenyelenggaraan demi mengejar permintaan pasar, hal ini sangat berbahaya danpada akhirnya akan membuat nama baik sekolah tercemar karena gagal menghasilkanlulusan yang berkualitas.

10. Proses pembinaan kebiasaan yangefektif pada siswa akan tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan yangnyata (pengalaman sarat nilai).

Komentar: Secara sistem prinsip ini sudah diterapkan di sekolahkejuruan kita. Ada Praktek Industri dan Pemagangan di SMK yang diberikanalokasi waktu cukup panjang hingga 1 tahun. Kesempatan juga dibuka lebar dalamhal penempatan, bisa diluar kota, luar negeri, dll. Bahkan siswa diperbolehkanuntuk masuk ke industri yang relevansinya kurang dengan jurusan yang dimiliki.Ini adalah hal yang salah dan tidak sesuai dengan prinsip pendidikan kejuruan,namun sekolah harus menghadapi kenyataan bahwa penempatan praktek lapangansiswa sangat sulit. Ini disebabkan kurangnya jumlah industri yang mau menerimasiswa praktek dan semakin banyaknya jumlah siswa sekolah kejuruan pada saatini. Sayangnya tidak ada upaya konkrit untuk memecahkan masalah rasio yangtimpang ini dari pemerintah.

 11. Sumber yang dapat dipercaya untukmengetahui isi pelatihan pada suatu okupasi tertentu adalah dari pengalamanpara ahli okupasi tersebut.

Komentar: Prinsip ini sudah cukup luas diterapkan oleh sekolahkejuruan, materi belajar memang disediakan dari sumber yang cukup terpercaya.Ini disebabkan semakin mudahnya pencarian informasi melalui teknologi informasisehingga dimungkinkan penggunaan dokumen untuk belajar yang berasal dariberbagai sumber. Bahkan saat ini hampir tidak ada perbedaan materi belajarantar sekolah dan antar daerah karena sumber yang dipakai sangat banyak dantersedia bebas. Namun utnuk beberapa jurusan tertentu, sekolah harus lebihproaktif membangun hubungan dengan industri lokal karena adanya materi yangharus disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
 
12. Setiap pekerjaan mempunyai ciri-ciriisi (body of content) yangberbeda-beda antara satu dengan yang lain.

Komentar: Prinsip ini sudah didekati oleh sistem pendidikan kejuruandengan adanya pengelompokan jurusan dan program keahlian. Sekolah jugacenderung membuka program keahlian yang serumpun agar bisa terjadi efisiensidalam proses mengajar karena adanya kompetensi atau sub-kompetensi yang dipakaibersama dalam bidang keahlian yang berbeda.

13. Pendidikan kejuruan akan merupakanlayanan sosial yang efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang yang memangmemerlukan dan memang paling efektif jika dilakukan lewat pengajaran kejuruan.

Komentar: Prinsip ini memerlukan banyak sumber daya dalampenerapannya. Setiap bidang keahlian memerlukan materi, metode belajar danpendekatan yang berbeda satu sama lain. Kebutuhan masing-masing jurusan harusdipenuhi agar hasil dari proses pembelajaran bisa maksimal. Di Indonesia sudahditerapkan dalam skala tertentu seperti adanya pelajaran Matematika khususuntuk bidang keahlian bisnis dan manajemen, ada Matematika khusus bidangTeknologi, dll. Hal yang sama juga sudah diterapkan di masing-masing rumpunseperti antar jurusan Multimedia dan Animasi ada pelajaran Gambar Grafis yangsedikit berbeda karena berbeda tujuan.

14. Pendidikan kejuruan akan efisienjika metode pengajaran yang digunakan dan hubungan pribadi dengan peserta didikmempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut.

Komentar: Prinsip ini sudah cukup luas diterapkan karena karaktersosial masyarakat Indonesia yang sangat menghargai hubungan sosial yang harmonis.Hubungan antara sekolah, guru, siswa dan orangtua siswa tergolong baik jikadibanding dengan negara lain. Ini adalah hal positif karena siswa dapat secarapositif mengembangkan minat dan bakatnya karena hubungan guru-siswa berjalansehat dalam proses belajar. Namun kendala utama prinsip ini adalah karenabanyaknya siswa yang harus diajar oleh 1 guru, artinya rasio guru-siswa masihsangat timpang sehingga masih sulit bagi guru untuk dapat memberikan perhatiankhusus pada setiap siswanya.

15. Administrasi pendidikan kejuruanakan efisien jika luwes.

Komentar: Pada umumnya manajemen administrasi sekolah di Indonesiarelatif fleksibel dan tidak kaku. Ini juga berhubungan dengan karakter sosialmasyarakat Indonesia yang mengedepankan rasa saling percaya dan keterbukaan.Bahkan dalam banyak kasus terlalu fleksibel dan mengabaikan prinsip tertibadministrasi. Namun dengan semakin banyaknya penerapan standar manajemen mututerpadu di sekolah, hal ini semakin baik, artinya tetap luwes namun tertib.
16. Pendidikan kejuruan memerlukan biayatertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak bolehdipaksakan beroperasi.

Komentar: Prinsip ini banyak dilanggar. Prinsip sebaliknya yangjustru sering dipakai yaitu, biarpun biaya tidak cukup yang penting dibukadulu. Ini adalah prinsip yang salah namun justru menjadi mainstream di kalangansekolah kejuruan. Pembukaan sekolah kejuruan membutuhkan dana sangat besar,pemerintah saat ini tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan di seluruh penjuruNusantara, demikian juga swasta. Hanya beberapa sekolah saja, baik negerimaupun swasta, yang mampu membiayai sekolah yang dikelola secara memadai,sebagian besar lainnya tidak didukung sumber pembiayaan yang cukup.

III.            Kesimpulan

Dengankomentar diatas mengindikasikan bahawa 16 prinsip yang dikemukakan oleh Pressermasih sangat jauh dari harapan jika dilihat dari segi pendidikan vokasi yangada di Indonesia, dan masih perlu pengkajian dan konsistensi pemerintah sangatdiharapkan agar pendidikan kejuruan di Indonesia dapat memenuhi 16 prinsippendidikan vokasi.

Sumber:

1ptk.blogspot,2012,”penerapan 16 dalil Prosser di Indonesia”http://1ptk.blogspot.com/2012/01/penerapan-16-dalil-prosser-di-indonesia.html


Bagikan Ki Bro:

Friday, July 11

Pengangguran SMK Tinggi, Ironi Slogan “SMK Bisa!”

Slogan SMK yang santer terdengar “SMK Bisa!” mulai nampak loyo dan kuyu melihat fakta BPS menyoal jumlah pengangguran. SMK yang sejatinya mempersiapkan generasi sekolah menengah untuk siap terjun ke dunia kerja nampaknya ironi semata. Sloga diatas sepertinya hanya membara saat generasi muda menempuh di jenjang sekolah. Sedang di dunia kerja, penyerapan baik yang diharapkan nampak belum optimal. Melihat rilisan BPS tentang jumlah pengangguran di Indonesia, lulusan SMK masih menjadi nomor wahid penyumbang pengangguran. Sekitar 11,19% dari total tersebut atau sekitar 814 ribu orang, merupakan tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kepala BPS Suryamin, mengatakan angka tersebut meningkat dibanding Agustus 2012 yang sebesar 9,87%. Artinya tamatan SMK lebih banyak menjadi pengangguran dibanding yang lainnya. “Tingkat penggangguran terbuka pada Agustus 2013 untuk pendidikan, SMK menempati posisi tertinggi, yaitu sebesar 11,19%,” ungkapnya di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (6/11/2013). Sementara posisi kedua terbanyak adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan 9,74% dari total pengangguran.

Pengangguran dari tamatan ini terus meningkat dibandingkan Agustus 2012 yang sebesar 9,6%. (berita: finance. detik.com) Apa Yang Terjadi? Seperti termaktub dalam salah satu poin Sekolah Menengah Kejuruan dalam website ditpsmk.net yaitu Mendidik Sumber Daya Manusia yang mempunyai etos kerja dan kompetensi berstandar internasional belum terwujud. Etos kerja yang digadang-gadang mampu mempersiapkan siswa di dunia kerja nampaknya belum optimal. Hal ini terkendala pengelolaan setengah hati SMK. Pemerintah memberikan keleluasaan dalam pengembangan sekolah menengah kejuruan atau SMK. Namun, saat ini belum ada peningkatan mutu pendidikan SMK dan pemetaan mobilisasi lulusan SMK. Kebijakan pemerintah ini justru ditanggapi dengan euforia, yaitu munculnya SMK-SMK baru. Apabila tidak ada peningkatan kualitas SMK, maka industri akan kesulitan menyerap lulusan SMK yang jumlahnya cukup besar. Tutur Samsudi di UNNES Semarang (berita: kompas.com) Proyek Negri Awung-Awung Mobnas Esemka Esemka adalah produk mobil nasional hasil rakitan siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang bekerja sama dengan institusi dalam negeri dan beberapa perusahaan lokal dan nasional. Kandungan komponen lokal (dalam negeri) berkisar antara 50%-90%. Namun faktanya, mobnas Esemka terengah-engah mencoba menghirup nafas dalam gempuran mobil Jepang.

Esemka yang digadang-gdang oleh Jokowi menjadi serupa Timor nampak mangkrak. Lebih lagi pemerintah nampak masa bodoh. Dengan dikeluarkannya kebijakan mobil murah, seperti menikam mati produksi hasil tangan-tangan siswa SMK. Sudah empat hari mobil Esemka buatan PT Solo Manufaktur Kreasi dipamerkan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat. Hingga hari ini baru 3 unit mobil Esemka yang berhasil terjual di acara Pameran Produk Dalam Negeri 2013. Marketing PT Solo Manufaktur Kreasi Tri Yuli Puspitarini mengatakan sejak mengikuti pameran di JCC, 4 hari lalu sampai saat ini baru 3 unit mobil Esemka yang laku terjual. “Sudah ada 3 orang pesan, mereka sudah mau, sudah nanya nomor rekening dan sudah DP (uang muka),” kata Rini saat ditemui di acara Pameran Produk Dalam Negeri 2013, di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (6/10/2013). (berita: finance.detik.com)

sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2013/11/06/pengangguran-smk-tinggi-ironi-slogan-smk-bisa-607079.html
Bagikan Ki Bro:

Tuesday, June 24

GAYA KEPMIMPINAN ORGANIK BAGI PENDIDIKAN TEKNOLOGI KEJURUAN



A.    Pendahuluan

Gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang digunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para bawahan. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi.

Kepemimpinan merupakan tulang punggung pengembangan organisasi karena tanpa kepemimpinan yang baik akan sulit mencapai tujuan organisasi. Jika seorang pemimpin berusaha untuk mempengaruhi perilaku orang lain, maka orang tersebut perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemim pinan adalah bagaimana seorang pemimpin melaksanakan fungsi kepemimpinannya dan bagaimana ia dilihat oleh mereka yang berusaha dipimpinnya atau mereka yang mungkin sedang mengamati dari luar (Robert,1992). Jameset.al.(1996) mengatakan bahwa gaya  kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja. Gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, ketrampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya (Tampubolon, 2007).

Berdasarkan definisi gaya kepemimpinan diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam menga rahkan, mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang lain atau bawahan untuk bisa melakukan sesuatu pekerjaan atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertentu.

B.     Pengertian Gaya Kepemimpinan

Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang kepemimpinan dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
 Dari beberapa ahli yang mendefinisikan kepemimpinan Menurut Tead; Terry; Hoyt adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. (dalam Kartono, 2003) Kepemimpinan menurut Young (dalam Kartono, 2003) lebih terarah dan terperinci dari definisi sebelumnya. Menurutnya kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus. Dalam teori kepribadian menurut Moejiono (2002) memandang bahwa kepemimpinan tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memilikikualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang kepemimpinan sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Pengertian Gaya Kepemimpinan Fleisman dan peters (1962) dalam Halimatusyadiah (2003) menyatakan gaya kepemimpinan adalah pola perilaku konsisten yang diterapkan pemimpin dengan dan melalui orang lain, yaitu pola perilaku yang ditujukkan pemimpin pada saat mempengaruhi orang lain.  Gaya kepemimpinan dalam Gibson (2000) yaitu perilaku pemimpin melalui dua dimensi yaitu:

1.      Consideration (konsiderasi)
adalah gaya kepemimpinan yang menggambarkan kedekatan hubungan antara bawahan dengan atasan, adanya salaing percaya, kekeluargaan, menghargai gagasan bawahan, adanya komunikasi antara pimpinan dan bawahan. Pemimpin yang memiliki konsiderasi yang tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan parsial.

2.      Initiating Structure (struktur inisiatif)  
merupakan gaya kepemimpinan yang menunjukan bahwa pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan hubungan-hubungan didalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas dan menjelaskan cara-cara mengerjakan tugas yang benar.pemimpin yang memiliki kecenderungan membentuk struktur yang tinggi akan memfokuskan pada tujuan dan hasil. 
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

Ada juga satu gaya kepemimpinan yaitu dengan model struktur organik dimana system organic ini memiliki sistem yang lebih flexibel untuk beradapatasi dengan keadaan lingkungan yang tidak menentu, sehingga dapat memotivasi semua pihak yang ada di dalam organisasi untuk dapat saling membantu dan mengembangkan kemampuan dirinya dalam mengatasi setiap masalah yang timbul dikemudian hari secara bersama-sama, dengan demikian setiap masalah akan lebih cepat diselesaikan, serta akan lebih menikmati suasana bekerja yang tidak terlalu dibawah tekanan seperti sistem mekanistik dan beberapa gaya kepemimpinan yang kaku. Adapun karakteristik dari model kepemiminan organic adalah:

1.      Proses kepemimpinan mencakup persepsi tentang keyakinan dan kepercayaan antara atasan dan bawahan dalam segala persoalan. Bawahan merasa bebas mendiskusikan masalah dengan atasan

2.      Proses motivasi berusaha menimbulkan motivasi melalui metode partisipasi

3.      Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir secra bebas keseluruh organisasi yaitu ke atas, kebawah dan kesamping

4.      Proses interaksi bersifat terbuka dan ekstensif

5.      Proses pengambilan keputusan dilaksanakan di semua tingkatanmelalui proses kelompok

6.      Proses penyusunan tujuan mendorong timbulnya partisipasi kelompok untuk menetapkan sasaran yang tinggi

7.      Proses kendali menyebar ke seluruh  organisasi dan menekankan pemecahan masalah dan pengendalian diri sendiri.

C.    Gaya Kepemimpinan Organik
Pemimpin Organik pemimpin asli pribumi yang memperbaiki bangsanya sendiri karena dikehendaki oleh masyarakat dengan endogenous knowledge-nya, tidak afiliatif bagi satu kepentingan individu saja tetapi untuk semua masyarakat yang dipimpinnya (http://bikinnama3.blogspot.com/: 2013).
Dalam kepemimpinan organik, pemimpin tidak menjadi figur sentral, akan tetapi kelompok secara keseluruhan menjadi kuncinya. Konsensus kelompok yang bisa menentukan siapa yang seharusnya menjadi pemimpin dan berapa lama. Jadi, kepemimpinan tak perlu bersarang pada individu tertentu, meskipun individu tersebut menduduki peran kepemimpinan untuk tujuan tertentu. Kompleksitas masalah yang dihadapi oleh organisasi membuat pemimpin sentral tunggal tidak lagi relevan. Perspektif dan kemampuan majemuk sangat diperlukan untuk memecahkan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh suatu institusi/ organisasi.
Gaya kepemimpinan organik memusatkan perhatian dan kepentingannya diatas kepentingan yang dipimpinnya. Orientasi gaya kepemimpinan ini adalah kesejahteraan dan keadilan mayoritas yang dipimpinnya dan bukan keserakahan minoritas. Menurut beberapa artikel yang ada menjelaskan tentang kepemimpin organic. Kepemimpinan organik tidak bisa terlepas dari beberapa macam gaya kepemimpinan yang ada selama ini dan banyak dipakai/diterapkan pada pribadi seorang pemimpin yang tidak melepaskan pentingnya tingkat pendidikan, namun status tingkat pendidikan dan kecerdasan tetap tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa pemimpin yang memusatkan kepentingan mayoritas yang dipimpinnya adalah pemimpin yang harus berpendidikan tinggi. Yang paling utama dalam pemimpin organik adalah kemampuan naluri untuk prioritas dan urgensi. Pemimpin tipe ini selalu menempatkan prioritas utama dalam kepemimpinannya.
Gaya kepemimpinan tipe ini menurut beberapa artikel yang ada adalah gaya partisipatif. Pemimpin memusatkan kepentingan dirinya untuk para pengikutnya, kesejahteraan mayoritas sebagai orientasinya. Gaya kepemimpinan ini memiliki komunikasi yang bersifat dua arah. Untuk mencapai kesejahteraan mayoritas yg dipimpinnya  atau pengikutnya yang sebenarnya, yaitu yang sesuai apa yang diharapkan, maka dibutuhkan keterlibatan pihak yang dipimpinnya dalam menemukan jalan keluar suatu titik permasalahan.

D.    Kesimpulan

Dalam sebuah organisasi tentunya harus mempunyai seorang pemimpin yang dapat mengatur sumber daya organisasi agar dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien sehingga berdaya guna dan berhasil guna. Seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dewasa ini, terdapat enam tipe kepemimpinan yang sering digunakan oleh para pemimpin besar maupun dalam ruang lingkup kelompok sampai organisasi besar. Efektivitas dalam sebuah kelompok dapat ditentukan juga oleh sikap dan perilaku seorang pemimpin.

Tidak ada tipe kepemimpinan yang paling benar atau baik untuk digunakan dalam sebuah kelompok. Tipe kepemimpinan yang efektif yaitu tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi oleh sebuah kelompok. Misalnya, jika suatu kelompok tersebut sedang mengalami berbagai masalah yang kompleks atau dalam situasi yang genting, maka tipe kepemimpinan yang dibutuhkan oleh kelompok tersebut adalah tipe otokratik. Dimana pengambilan keputusan dilakukan dengan sepihak yaitu oleh pemimpin kelompok itu sendiri. Tipe kepemimpinan yang ada dalam diri seorang pemimpin itu didasarkan pada teori-teori kepemimpinan yang ada. 

Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengayomi para bawahannya. Pergunakanlah tipe kepemimpinan yang ada sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, agar tujuan kelompok atau organisasi dapat tercapai dengan cara yang efektif dan efisien. Seorang pemimpin tidak disarankan memiliki sifat yang egois, karena seorang pemimpin yang baik harus bisa menerima kritik dan saran dari bawahannya.

Daaftar Pustaka:

Regina,Aditya,Reza,2010,”Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi, dan Disiplin Kerja Karyawan PT Sinar Sentosa Perkasa Banjarnegara” Skripsi,Universitas Diponegoro, Semarang
Suhardiman,2012,”Organisasi Mekanistik Dan Organisasi Organic” http://chandrasuhardiman.blog.binusian.org/2012/11/23/organisasi-mekanistik-dan-organisasi-organic/   
Danang,Hardasulistya,2009,”Peranan Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi”  http://danangharda.blogspot.com/2009/12/peranan-gaya-kepemimpinan-dalam.html
Isnan,Hidayat,2013”Gaya Kepemimpinan”, http://isnanhidayat.wordpress.com/2013/05/02/gaya-kepemimpinan/  diposting pada tanggal 2/6/2013
Ardini,Fitri,Pratiwi,2012,”Kepemimpinan Atributif dan Responsif,” http://ardinifp.wordpress.com/2012/12/18/kepemimpianan-atributif-dan-responsif/, di Unduh Pada Tanggal 23 April 2014
Bikinnama3,2013,”Pemimpin Generik organic di Era Demokrasi”,http://bikinnama3.blogspot.com/2013/11/pemimpin-generik-organik-di-era.html   





 

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro: