Showing posts with label Issu Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Issu Perempuan. Show all posts

Friday, August 5

Narkoba dan Penegagakan Hukuman Mati




Image result for hukuman mati narkoba
Dalam beberapa tahun belakangan ini, issu yang mencuat di beberapa media elektronik, maupun cetak mengenai eksekusi mati 10 terpidana hukuman mati dalam kasus pengedaran narkoba, dari 10 terpidana hukuman mati hanya 4 orang yang telah di eksekusi mati tersemasuk salah satunya adalah fredy budiman. Hukuman mati ini di publikasikan di media-media sehingga respon publik pun bermunculan dengan berbagai komentar tentang adaya hukuman mati yang berlaku di indonesia yang terkena kasus narkoba, dan kasus teroris.
Bagikan Ki Bro:

Wednesday, December 30

Kritik Terhadap Gerakan Perempuan

Oleh: Bustamain Tato

Tulisan ini merupakan hal yang baru bagi saya, pertama karena tulisan ini mengenai tentang sosok perempuan, dan cara pandangnya. Kedua adalah; tulisan ini merupakan kali pertama saya menulis tentang issu perempuan dan perlawanannya. Yah, hanya sebagai ungkapan pendapat saya tentang gerakan perempuan, jika ada yang kurang tepat tentang tulisan ini, silahkan kawan-kawan mengkritiknya, silahkan jalankan budaya kritik otok kritik demi kemajuan gerakan perempuan sampai pada tujuan muliah kita yaitu dimana manusia yang satu memanusiakan manusia yang lainnya. Menganggkat issu perempuan memang kita harus berhati-hati, salah sedikit kita sebagai kaum laki-laki akan di cap bias gender karena memojokkan satu jenis kelamin saja yaitu perempuan. Hal ini bukan bermaksud memojokkan satu jenis kelamin, namun merupakan pencarian satu kesepakatan bersama dengan merumuskan apa yang kemudian menjadi kesepahaman (strating point) bersama menuju masayarakat yang kita cita-citakan.  

Menuju cita-cita bersama, tentunya kita akan menyatukan diri dalam perbedaan yang ada, perbedaan jenis kelamin, perbedaan pendapat dan perbedaan-perbedaan lainnya, karena tidak ada persatuan tanpa perbedaan. Hanya perbedaanlah sebagai syarat persatuan yang mutlak.  Perbedaan perspektif tentang gerakan perempuan seperti; feminisme radikal, anarkis, liberal, sosialis, serta feminisme marxis merupakan perbedaan yang sah-sah saja namun juga harus berani mengkritik satu sama lainnya dengan kritik yang ilmiah.

Banyak organisasi perempuan yang berfikiran feminisme liberal akan tetapi cenderung menggunakan paham feminisme radikal yang cenderung menyerang kaum laki-laki, dan ada juga organisasi perempuan yang menggunakan semua perspektif gerakan perempuan sebagai pisau analisa tanpa memilih salah satu dari perspektif gerakan perempuan tersebut, yah, dalam hal ini memang terlihat netral namun dalam filsafat yang saya pahami bahwa tidak ada yang netral, kita harus berani memilih cara pandang seperti apa yang harus kita gunakan dan perjuangan tanpa anti terhadap kritikan yang ada, yang tentunya juga harus belajar dari sejarah munculnya patriarki dan penindasan terhadap perempuan serta sejarah munculnya klas-klas dalam masyarakat, hingga kita bisa menemukan inti pokok permasalahannya bahwa penindasan perempuan tidak terlepas dari lahirnya klas, dan faktor-faktor lainnya yang memiliki relasi kuat satu sama lain.

 Jika dilihat dari asal-usul penindasan perempuan, memang issu yang diangkat adalah issu patriarkisme, dimana kaum laki-laki mendominasi dibanding kaum perempuan, akan tetapi harus dikaji juga kenapa sistem patriarki itu muncul dan seperti apa kontradiksi pokoknya, hingga kita bisa melihat bagaimana sistem ini berjalan dan bagaimana melawannya, mungkin untuk merangkai penjelasan tentang asal-usul penindasan perempuan silahkan baca tulisan Ken Budha Kusumandaru yang berjudul Asal-Usul Penindasan Perempuan saya tidak perlu menjelaskan disini.

Memang benar, bahwa dominasi kaum laki baik dari kehidupan rumah tangga, lingkungan, tempat perempuan bekerja, dan sebagainya sampai pada kehidupan ber-agama dimana kaum perempuan di nomor duakan dari kaum laki-laki. Akan tetapi, satu hal yang harus diketahui bahwa sistem patriarki dijaga dan di pertahankan oleh sistem yang sedang berjalan dengan menggunakan pembenaran dari agama, adat istiadat, dan sebagaianya untuk mempertahankan satu klas tertentu, sejarah perkembangan umat manusia akan terlihat dengan jelas dimana dominasi laki-laki atas perempuan dipertahankan pada fase perkembangan umat manusia, mulai dari fase perbudakan, feodalisme, sampai sekarang ini fase kapitalisme dimana sebagian besar kaum perempuan dijadikan sebagai sumber profit yang tak terbantahkan kebenarannya.

Gerakan perempuan sekarang ini tentu harus melihat bahwa sejarah lahirnya patriarki, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perekembangan sejarah umat manusia yang sepanjang sejarahnya merupakan sejarah pertentangan klas, antara klas tertindas dan klas penindas. Bahwa adanya klas dalam masyarakat menjadi syarat akan adanya penindasan terhadap perempuan, dengan adanya penindasan oleh klas penindas terhdap klas tertindas, untuk mendominasi klas lain, sekaligus berusaha untuk mempertahankan klas mereka sendiri, sehingga berbagai bentuk yang akan dilakukan untuk mempertahankan klasnya pun dilakukan secara sistematis dan terorganisir. Karena itu, gerakan perempuan harus dilandasi dengan perjuangan demokratik yang mengangkat dan mempropagandakan hak-hak demokratik perempuan, sampai pada perjuangan klas.

Gerakan perempuan sekarang ini yang banyak di propagandakan adalah bagaimana kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ini ada, baik dilingkungan keluarga, pembagian harta dalam keluarga, di ruang-ruang publik, dengan cakupan luasnya setara secara sosial, ekonomi, politik, dan agama, hal ini merupakan perjuangan demokratik perempuan dalam menuntut hak-haknya, namun gerakan perempuan juga harus bergerak dalam perjuangan klas hingga issu-issu lainnya menjadi bagian perjuangan perempuan dalam pembebasannya sebagai manusia yang memiliki hak menentukan masa depannya sendiri. Tanpa terlibat dalam perjuangan selain issu soal perempuan, gerakan perempuan akan dianggap eksklusif dan akan sulit mencapai kemenangannya.

Gerakan perempuan juga dalam beberapa tahun belakangan ini lebih cenderung pada gerakan-gerakan NGO yang tergantung pada dana faunding untuk bergerak, dan cenderung bersifat advokatif yang memafantakan ketergantungan, bak super hero, dan hanya menjadi obat penenang bagi perempuan sehingga tuntutan perempuan hanya menjadi issu semata. Meskipun sudah banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur hak dan kewajiban kaum perempuan, dan memberikan ruang gerak secara bebas kepada kaum perempuan, akan tetapi selama sistem ini masih dibawah klas penindas (klas kapitalisme), maka perubahan secara sistematis akan menjadi mimpi disiang bolong. Trus apa yang harus dilakukan oleh kaum perempuan dalam pembebasannya atas patriarki yang dipertahankan klas pemilik modal?

Untk menjawab pertanyaan diatas tentunya, kaum perempuan haruslah berani keluar ruang yang mengekang kebebasannya dan menganalisis sistem dan memblejetinya sebagai suatu sistem yang memafantakan sistem penindasan dan penghisapan, termasuk penindasan dan penghisapan terhadap perempuan. Tentunya juga bergerak bersama kaum laki-laki serta memberikan pemahaman kepada kaum perempuan dan laki bahwa kita adalah bagian dari klas tertindas dan harus keluar dari sistem ini secara bersama, bergerak sama menuju masyarakat yang memanusiakan-manusia.
   

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro: