Showing posts with label Budaya Mandar. Show all posts
Showing posts with label Budaya Mandar. Show all posts

Saturday, March 25

“Baje” Salah Satu Makanan Khas Masyarakat Pattae’



Hampir di semua wilayah di nusantara mempunyai makanan khas tersendiri, di masyarakat pattae’ di Sulawesi barat juga memiliki makanan khas seperti “baje”. Baje ini merupakan makanan yang sering di jumpai ketika mengadakan ritual peringatan kematian salah satu masyarkat pattae’. Acara ritual ini disebut “ma’bongi” atau malam untuk mengenang kematian salah keluarga dalam masyarkat pattae’.

Makanan khas ini juga terdapat di beberapa wilayah yang ada di Sulawesi selatan dan barat, di mandar disebut sebagai “baye”, penamaannya hampir sama karena di wilayah Sulawesi barat masih satu rumpun yaitu masyarakat mandar secara umum, karena mandar ini merupakan salah konfederasi dari berbagai etnis yang ada di Sulawesi barat, maka tidak heran jika ada kesamaan terutama makanan khasnya. Namun, di beberapa daerah “baje” ini bisa didapat pada waktu-waktu lain, dan bahkan sudah di jual sebagai jajanan, dan oleh-oleh dari tanah mandar. 

Bahan yang di perlukan dalam pembuatan “baje’ terdiri dari tiga bahan dasar, seperti gula merah, kelapa yang diparut kasar, dan beras ketan. Masyarakat juga biasa menambahkan bahan lain dari tiga mendasar seperti tepung, buah-buahan. Buah yang sering di campurkan kedalam bahan dasar pembuatan “baje” adalah buah durian.

Pada proses pembuatannya cukup memakan waktu dan memerlukan tenaga yang super duper ekstra, karena pertama-tama harus mengupas kelapa dan memarutnya, kemudian memasak terlebih dahulu beras ketan, lalu mencairkan gula merah sebagai bahan pemanisnya. Untuk proses pembuatannya kita akan bahas lebih lengkap sebagai berikut;

Bahan dasar
  1. Gula merah secukupnya
  2. Kelapa parut yang sudah di parut kasar
  3. Beras ketan yang sudah dimasak sebelumnya
Proses pembuatannya
  1. Menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan “baje”
  2. Mencairkan terlebih dahulu gula merah diatas wajan besar
  3. Setelah gula merah sudah meleleh dengan rata, masukkan kelapa yang sudah di parut kasar
  4. Aduk hingga rata, (aduknya harus kontinu agar gula merahnya tak menjadi hangus)
  5. Setelah gula merah yang sudah cair dan kelapa parut telah menyatu
  6. Masukkan lah ketan yang sudah di masak
  7. Aduk sampai gula merah, kelapa, dan ketannya menyatu
  8. Untuk mengaduknya, harus secara kontinu
  9. Setelah semua bahan telah menyatu, padamkan apinya, lalu jadi deh..!
  10. Bisa langsung dimakan, tapi hati kalo masih panas
  11. Bisa juga di bungkus, kalo di masyarakat pattae’ sering membungkusnya dengan daun pisang, karena aroma daun pisang kering lebih sedap dan bisa mengawetkan makanan. 
Belajar Selagi Muda, Berjuang Selagi Bisah
Bagikan Ki Bro:

Friday, August 5

Narkoba dan Penegagakan Hukuman Mati




Image result for hukuman mati narkoba
Dalam beberapa tahun belakangan ini, issu yang mencuat di beberapa media elektronik, maupun cetak mengenai eksekusi mati 10 terpidana hukuman mati dalam kasus pengedaran narkoba, dari 10 terpidana hukuman mati hanya 4 orang yang telah di eksekusi mati tersemasuk salah satunya adalah fredy budiman. Hukuman mati ini di publikasikan di media-media sehingga respon publik pun bermunculan dengan berbagai komentar tentang adaya hukuman mati yang berlaku di indonesia yang terkena kasus narkoba, dan kasus teroris.
Bagikan Ki Bro:

Friday, January 16

Dakka; Komunitas Kecil Yang Terlupakan Di Polewali Mandar


(Sebuah Narasi Yang Tidak Utuh)

Selain etnis Mandar, Bugis, Jawa, Pannei dan Pattae yang menjadi penghuni setia Polewali Mandar (Polman), juga terdapat satu komunitas (baca; Etnis) kecil bernama Dakka. Keberadaan etnis ini memang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang, sebab selain jumlah warganya sedikit, komunitas ini juga tidak memiliki tradisi tulis (baca; Lontora) sebagai salah satu penanda keberadaan suatu etnis.

Berdasarkan informasi lisan dari tokoh masyarakat setempat, Dakka berarti air laut yang surut kepantai. Keberadaan fosil kerang dan gundukan pasir laut yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun di puncak gunung Dakka (Buttu Dakka) yang sampai hari ini masih bisa ditemukan. Oleh masyarakat setempat diyakini sebagai salah satu bukti kuat bahwa dulunya wilayah tersebut adalah genangan air laut.

Selain itu, Dakka tidak hanya menjadi nama sebuah suku, tapi juga dilektakan menjadi nama sebuah desa, tempat dimana masyarakat Dakka bermukim. Secara administratif, Desa Dakka merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Tapango. Hamparan sawah yang membentang begitu luas sekaligus menjadi ciri khas kehidupan sosial masyarakatnya yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Selain kehidupan agraris tersebut, etnis Dakka juga dikenal sebagai etnis yang cukup terbuka terhadap pendatang. Mereka memperlakukan pendatang sebagaimana laiknya sebagai saudara, mereka berbaur satu sama lain dan saling tolong menolong. Atas dasar itulah, Dakka kemudian dikenal sebagai wilayah multikultur untuk skala pedesaan di Polman.

Identitas Bahasa

Sebagai komunitas, Etnis ini punya sejarah dan identitas tersendiri yang membedakan dirinya dengan etnis yang lain. Bahasa keseharian yang digunakan adalah bahasa Dakka. Sebuah bahasa yang cukup unik dan tidak umum digunakan di wilayah Polman. Krakter kebahasaan inilah yang membedakannya dengan etnis lain, seperti bahasa mandar, yang hampir bisa ditemukan diberbagai wilayah di Polman dengan dialek yang berbeda-beda.

Olehnya itu, tidak sulit untuk mengetahui bahasa Dakka, sebab dialek bahasanya tidak beragam, berbeda dengan bahasa mandar, Pannei, Bugis dan Toraja yang notabene menjadi alat komunikasi masyarakat Polman pada umumnya. Jika demikian, lalu kenapa Komunitas ini tidak terlalu dikenal? boleh jadi karena komunitas ini dianggap minoritas dan secara geografis hanya mempunyai wilayah kecil (desa), sehingga tidak menarik untuk dipublikasikan.

Selain itu, meskipun etnis Dakka adalah salah satu penduduk asli Polman, nampaknya keberadaannya tidak pernah dianggap ada, ditambah oleh sebagian generasinya yang tidak terlalu peduli akan keberadaan daerahnya sendiri, serta praktik mendidik generasi (anak-anak usia dini) dalam rumah tangga mereka mengunakan berbahasa Indonesia, bukan dengan bahasa sukunya. Sehingga wajar kemudian jika muncul keprihatinan akan masa depan etnis ini. Sebab tidak menutup kemungkinan generasi berikutnya yang lahir dan besar di wilayah tersebut, merasa terasing dengan identitas dan kebudayaanya sebagai orang dakka.

Tradisi dan Filosofi Hidup

Meski tidak ada literatur yang mengambarkan keberadaan etnis ini secara kultural, tapi paling tidak mereka juga mempuyai tradisi dan filosofi Hidup tersendiri. Salah satunya adalah keteguhan untuk senantiasa menjaga kejujuran sebagaimana yang tergambar dalam kearifan lokal mereka sebagai filosofi hidup, “Dotai Jappo Narari Kaboro-boro”, yang artinya kurang lebih sebagai berikut; lebih baik hancur berkalang tanah, dari pada hidup dengan penuh kebohonan.

Selain itu, dalam hal tradisi, praktik ritual, seperti berdoa (ma’baca) dipinggir kali (lembang) di kaki gunung Buttu Dakka sebagai simbol pengahargaan terhadap alam dan sekitarnya, juga kerap kali dilakukan. Upacara ritual yang merupakan tradisi kepecayaan nenek moyang mereka diupayakan untuk tetap terjaga, karena didalamnya terdapat ritual tolak bala, yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan keseharian mereka, seperti kesehatan dan kesuburan tanah warga yang mendiami desa Dakka agar bisa menghasilkan panen yang melimpah.

Meski demikian, seiring dengan masifnya kemajuan zaman yang berbarengan dengan hadirnya paham-paham keagaman moderen (fundamental), menjadikan tradisi masyarakat Dakka berada diambang kepunahan. Masa lalu Dakka saat ini, tidak lagi gampang untuk ditemukan, sebab tradisi mereka tergilas oleh laju modernisasi kehidupan. Meskipun masih ada tersisah, tapi itu mungkin hanya sekedar serpihan yang tidak utuh lagi menjadi sebuah tradisi. Sama dengan tidak utuhnya tulisan ini dalam menarasikan Dakka sebagai sebuah kubudayaan. Harun Mangku Langit Abdullah S

Sumber: FB Abdullah S
belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro: