Saturday, March 25

Perjuangan Buruh, adalah Perjuangan Memenangkan Kasus


aksi may day 2015

Sudah bertahun-tahun lamanya gerakan buruh bergerak melawan ketidak adilan, baik di tempat kerjanya, maupun pada perumusan regulasi oleh perumus undang-undang yang sejatinya tidak pernah berpihak sepenuhnya kepada kaum buruh. Hal ini yang kemdian memicu banyaknya bermunculan serikat-serikat buruh yang ada. Pasca runtuhnya pemerintahan orde baru sebagai penguasa anti gerakan buruh, kini bermunculan banyak organisasi buruh, baik yang dibuat oleh pemerintah, pengusaha, maupun para aktivis buruh. 

Dari sekian banyaknya organisasi buruh yang ada, terbentuk dari penanganan kasus (kasuistik), bukan dari kesadaran diri kaum buruh itu sendiri untuk mengorganisir diri. Hal yang utama harus dipahamkan adalah kepentingan buruh tidak akan pernah sama dengan kepentingan penguasa dan pengusaha. 

Msekipun ada, itu sebagian kecil saja, dan jarang di temui. Serikat buruh yang ada dipercaya mampu menangani kasus perburuhan, baik soal kasus PHK, Upah yang tidak sesuai dan sebagainya merupakan hal yang setiap hari di lakukan para pengurus serikat buruh. Jika organisasi tidak mampu mengakomodasi kepentingan buruh dalam penaganan kasusnya, maka buruh akan keluar dari organisasi, karena organisasi serikat hanya dipandang sebagai pemadam kebakaran, jika tak mampu memadamkan api, maka hanguslah anggota di tingkat SB/SP tingkat pabrik.    

Dimakassar, banyak sekali kita temui kasus seperti ini, dimana para pekerja yang tergabung dalam organisasi serikat buruh membawa kepentingan bahwa kasusnya bisa ditangani dengan baik oleh pengurus serikat buruh. Bukan untuk bagaimana meningkatkan kecerdasan buruh dan membangun persatuan buruh, akan tetapi hanya menjadi pemadam kebakaran saja. 

Buruh-buruh yang ada sangat takut untuk bergabung dalam salah satu organisasi serikat buruh, apalagi membentuk serikat buruh. Betapa sulitnya membangun serikat buruh dalam sistem eknomi yang mencekik kehidupan kaum buruh. 

Intimidasi, berupa ancaman PHK, dan gaji di potong dan sebagainya menjadi senjata bagi para pengusaha untuk menghalang-halangi buruhnya untuk berorganisasi. Meskipun undang melarang untuk menghalangi buruh untuk berserikat, namun itu hanya ada dalam undang-undang saja, tidak ada dalam penerapannya. Kaum buruh tetap saja ketakutan meskipun sudah ada regulasi yang mengatur. Hal ini lagi-lagi karena persoalan ekonomi. Kaum buruh sangat ketakutan bila tidak mendapat pekerjaan, atau di PHK di tempat kerjanya. 

Kasus intimidasi ini merupakan taktik jitu para pengusaha, untuk menakut-nakuti buruhnya agar tidak bergabung atau membentuk serikat buruh. Berbagai macam juga dilakukan pengusaha seperti bekerja sama dengan perusahaan outsoarching, dan juga memberlakukan sistem kerja kontrak yang sama sekali tidak berkekuatan hukum. Maka suatu saat nanti ada masalah, maka akan dengan mudah ditangani oleh pengusaha. 

Perjuangan buruh sekarang ini hanya menjadi perjuangan yang bersifat kasuistik, menangani kasus lalu selesai perkara, bukan untuk membangun solidaritas antar sesama kaum buruh, bahwa kita satu dalam sistem penindasan dan penghisapan para penguasa dan pengusaha. Organisasi serikat buruh sekarang ini pun berubah orientasinya, mungkin karena sudah jenuh atau mungkin juga penanganan kasus ini dijadikan sebagai lahan basah untuk mendapat duit. 

Jika kita menganalisa dengan baik, arah serikat buruh sekarang ini mengarah pada penanganan kasus semata, layaknya LSM yang mencari kehidupan dari adanya kasus yang di tanganinya. Inilah skema yang di inginkan para penguasa dan pengusaha untuk melemahkan gerakan buruh, ditambah lagi dengan regulasi yang mencekik, dan keberpihakan penguasa pada satu kelas tertentu yaitu pengusaha menjadikan buruh terdiam pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengadu kepada serikat buruh untuk dibantu dalam penaganan kasusnya. 

Dari adanya kenyataan seperti ini, tentunya dibutuhkan perumusan ulang tentang gerakan buruh. Mengapa harus buruh, karena mereka lah pemegang kendali jalannya eknomi Negara, dan penguasa dan pengusaha akan takut jika buruh bergerak, mogok, aksi-aksi dan sebagainya.
 

Belajar Selagi Muda, Berjuang Selagi Bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment