Wednesday, January 25

Mengapa Mahasiswa Rantau Sering Pulang Kampong?


Sebelumnya, saya pernah menulis soal aktivitas mahasiswa yang hanya tahu soal Kampus, Kos, Kampung atau biasa di singkat menjadi 3 “K”. Dalam tulisan saya sebelumnya, yang berjudul “Mengapa Mahasiswa Rantau Sering Pulang Kampung” memiliki keterkaitan yang sangat padat, shingga boleh dikatakan bahwa tulisan ini adalah mengulang tulisan saya sebelumnya.
Namun, meskipun memiliki kesamaan, tapi kali ini, dalam tulisan lanjutan ini memiliki penekanan pada "mahasiswa rantau" yang sering pulang kampung sebagai pembeda dari tulisan sebelumnya. Tulisan ini juga terbilang cukup menjelaskan lebih detail dari pada tulisan sebelumnya. Baik lah, tidak usah panjang lebar lagi, tidak usah neko-neko lagi, yang membaca dan tersinggung, saya ucapkan mohon maaf, tapi alangkah bagusnya kalo tersinggung dan mau merubah sikap nya yang lebay. oke..! izinkan saya menjelaskan secara subjektifitas saya tentang mengapa mahasiswa rantau sering pulang kampong.

Pertama-tama saya akan mengutif tulisan saya sebelumnya yang membahas soal mahasiswa rantau. Ada beberapa alasan paling mendasar mengapa mahasiswa rantau sering pulang kampong yaitu, pertama; dengan alasan rindu dengan orang tua, dan kedua; kehabisan duit di tanah rantau. Kedua alasan ini paling sering kita dengar ketika kita menanyakan kepada kawan kita yang mahasiswa seperti "mengapa pulang kampung?" Kita bisa menganggap bahwa alasan itu memang masuk akal, dan sulit untuk dihindari, atau menghalangi seorang mahasiswa tuk pulang kampung, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita tak bisa menghalang-halangi kemauan orang tua dikampung. Namun, hal ini ternyata tidak seratus persen benar bahwa rindu sama orang tua. Banyak mahasiswa yang saya dapatkan, mereka pulang kampung karena memang pusing tak bisa berbuat apa-apa di tanah rantau sebagai mahasiswa sehingga, mereka memilih untuk pulang kampung sebagai bentuk tindakan untuk menjauh dari kegelisahan itu. Hidup bersama orang tua itu memang sangat menyenangkan, mau makan, tersedia makanan, sehingga pikiran kehabisan duit tidak masalah ketika bersama orang tua atau keluarga dikampung. Kemudian bisa nongkrong bebas bersama teman-temannya dikampung, bernostalgia sampai larut malam melupakan semua beban yang ada, (kek lagu reggae aja). Yah.. jiwa seorang pemuda yang di kategorikan sebagai borjuis kecil, suka bersenang-senang, lebih mengutamakan ego, dan ini kita anggap sebagai mahasiswa yang tidak bisa mandiri, butuh disuap sama mama/papa dikampung.

Menjadi seorang mahasiswa yang masa kuliahnya tiga tahun sampai empat tahun, dan batas maksimalnya tujuh tahun, setelah itu Drop Out (DO) dari kampus. masa kuliah 5-7 tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk menuntut ilmu, jika masa itu kita belum mampu bertahan menjauh dari orang tua, maka lebih baik kuliah di daerah dimana orang tua kita tinggal saja, tak usah jauh-jauh kuliah. Menjauh dari orang tua, bukan berarti meninggalkan orang tua kita selamanya, kecuali kalo memang kita sudah meninggal, sudah pasti kita akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi di pangkuan orang tua, akan tetapi kembali kepangkuan sang pencipta. Okelah kalo ingin pulang kampung karena rindu, pulanglah tapi jangan sering-sering juga, yah.. minimal sekali setahun lah.

Mahasiswa rantau adalah sebuah latihan menjadi orang yang siap hidup mandiri, mengembangkan dan memperluas pengetahuan. Kita jangan kalah dengan rasa rindu yang toh nyatanya ketika pulang kampung bukannya menghabiskan waktu dengan orang tua karena rindu, membantu orang tua di kebun dan lain-lain...dan lain-lain.. sebagainya, malah kerjanya sampai dikampung nongkrong, cerita tidak berkualitas sampai larut malam, tidur pagi bangun sore, bangun lagi, nongkrong lagi dan begitu seterusnya. Bukan kah akan lebih baik bertahan dan mencoba hal-hal yang kreatif, belajar dengan tekun sebagai seorang mahasiswa di tanah rantau.

Kehabisan duit yang juga menjadi alasan mahasiswa rantau ini sering pulang kampung. Hal ini merupakan alasan omong kosong, Mengapa demikian? Karena orang tua menyekolahkan kita ke tanah rantauan, bukan tidak punya persiapan matang, soal biaya tempat tinggal, biaya makan, dan lain sebagainya, orang tua kita sudah siap menanggung, apalagi kalo kita sudah dapat kerja sampingan di tanah rantau itu artinya kita sudah siap hidup mandiri, dan gak malak lagi ma mama/papa di kampung. Kalo memang orang tua kita gak punya duit untuk menyekolahkan kita ke tanah rantau, orang tua kita pasti tidak membiarkan kita kuliah jauh dari kampung halaman kita, kecuali kalo kita maksa dan siap hidup mandiri yah lain lagi ceritanya, itu artinya anda sudah siap.

Jadi, keseringan tuk pulang kampung di minimalisirlah, waktu libur di isi dengan kegiatan penunjang pengetahuan, atau menunjang pengetahuan kuliah kita di kampus. atau melakukan aktivitas lain misalnya kursus, dan lain sebagainya yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita. Karena ilmu pengetahuan, dan kecakapan berfikir itu akan beda kuantitas dan kualitasnya jika di bandingkan dengan dikampung. Apalagi teknologi informasi semakin canggih, kita bisa berkomunikasi dengan orang kita meski jarak yang sangat jauh, orang tua bisa mengirim bekal hidup kita di tanah rantauan dengan cepat tanpa harus pulang untuk mengambil bekal nantinya. Kalo mahasiswa seperti ini mulu, yakin saja masa depan bangsa dan Negara kacau balau.. karena lebih mementingkan ilusi di bandingkan kenyataan.


Belajar Selagi Muda, Berjuang Selagi Bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment