Sunday, January 8

Daripada Pusing dengan Pilkadal, Mending Orasi Politik

Orasi Politik 
Saat-saat sekarang ini, dengan issu yang tidak mendidik kemudian di konsumsi oleh sebagian besar rakyat yang tidak tahu menahu dan tidak mau berfikir panjang untuk menganalisis setiap issu yang di pertontonkan di media-media kita, oleh pelaku politik borjuasi. Seakan-akan setiap issu yang diangkat oleh media massa, merupakan keyataan yang benar-benar nyata (in fack) terjadi tanpa tidak adanya sebab akibat yang lebih jauh lagi, bahwa semuanya telah di setting dengan sangat rapih, untuk mengilusi gerakan rakyat dari kesenjangan sosial rakyat dan krisi ekonomi.


Propaganda politik pecah belah perlawanan rakyat, semakin tumbuh dan berkembang, sepanjang krisis ekonomi dunia yang merambat ke negara-negara berkembang seperti indonesia, kian menuai kesuksesan dan gerakan rakyat kian meredup serta cendurung bergerak sendiri-sendiri, bahkan tergiring oleh arus politik opurtinis.

Tidak kah kalian tahu, bahwa nafas demokrasi rakyat indonesia telah berada di ujung tenggorokan, dan sebentar lagi akan menghembuskan nafas terkahirnya diatas kekacauan politik borjuasi, dan dari sikap apolitis gerakan rakyat itu sendiri. Organisasi-organisasi pro demokrasi yang lagi sibuk dengan romantisme masa lalu, belum tuntas juga, tentang siapa yang paling revolusioner dan siapa yang melenceng dari ideologi, politik, organisasi. Mereka-mereka ini mungkin sudah merasa bahwa kebebasannya telah usai diperjuangkan dan kini saatnya adalah saling menghujat satu sama lain, siapa si penghianat, dan siapa yang paling revolusioner, dan merasa bahwa gerakan saat ini telah masuk tahapan revolusi sosialis karena revolusi demokratik telah kita rebut dari era orde baru yang otoriter dan anti rakyat itu.

Keinginan klas borjuasi kepada klas pekerja dan rakyat tertindas seluruhnya adalah bagaimana tetap bodoh, dan aktivis yang katanya revolusioner akan mereka pecah belah agar tidak ada lagi pendidikan politik, pendidikan kepada rakyat untuk melawan, tidak ada lagi dan tidak akan pernah terjadi. Belajar dari pengalamannya, kaum borjuis telah siap jauh-jauh hari, pasca runtuhnya kekuasaan orde baru. Betapa sedihnya kaum borjuis ini, telah di usir dari tampuk kekuasaan 1998 oleh letupan massa rakyat secara spontan. Meski kekuasaan telah hilang, namun propaganda mereka masih sangat efektif berjalan melalui partai politiknya yang masih bertahan hingga sekarang. Politik orde baru masih berkeliaran, dan kita (aktivis yang katanya revolusioner) telah lengah atas propaganda politik orde baru. Mengapa saya katakan demikian? Coba kita lihat sejarah indonesia, sama sekali tidak ada perubahan dari sejara sebelumnya pada masa orde baru, sejarah yang ada masih prodak dari sejarah buatan orde baru, sehingga kekuatan-kekuatan orde baru masih menancapkan kakinya dan selalu siap dalam kondisi apapun untuk merebut kembali kekuasaan.

Pembungkaman demokrasi merupakan tindakan orde baru yang kini bangkit kembali. Kekuatan orde baru seolah-seolah telah di bangkitkan kembali dari liang kuburnya, dan memecah belah gerakan rakyat yang sudah sejak lama menjadi musuhnya. Propaganda yang massif, dan menguasai media kampanye, menggiring opini massa kepada teror bangkitnya gerakan rakyat yang di cap sebagai kebangkitan komunisme. Siapa pun yang melawan kekuasaan sekarang, dan mengorganisir rakyat, akan dianggap komunis, mereka mencetak gambar palu arit untuk menakut-nakuti rakyat yang melawan dengan cap komunis dan TAP MPRI tentang atribut komunis dan penyebaran ajaran marxisme-leninisme yang dilarang itu.

Kekacauan politik, dan krisis eknomi kapitalisme, dan bangkitnya gerakan rakyat awal-awal tahun 2000-an, merupakan ketakutan tersendiri bagi kapitalisme di indonesia. Meskipun yang meruntuhkan kekuasaan otoriter soeharto yang membenci sistem demokrasi itu, adalah negara-negara kapitalis itu sendiri melalui permainan CIA, karena kasus korupsi Soeharto yang membuat kerugian bagi negara-negara kapitalis, dan penguasaan atas industri dalam negeri oleh keluarga cendana dan kroni-kroninya. Namun, mereka (kapitalis) tidak bisa melepaskan 100% bantuan dari kekuatan anti demokrasi di indonesia untuk menjaga investasi. Oleh karena itu, tidak menjadi suatu yang mengejutkan, kenapa hegemoni orde baru beberapa tahun belakangan ini kian massif, itu karena bantuan dari kekuatan negara-negara kapitalis untuk meredam kebangkitan gerakan rakyat.

Mungkin, kita masih belum sadar bahwa upaya pecah belah dari kubu kapitalisme dan orde baru telah bergerak sedini mungkin untuk memecah gerakan rakyat, dan gerakan revolusioner di indonesia.
Kekuatan paling siap dalam kekacauan ekonomi, politik sekarang ini untuk merebut kekuasaan atas negara adalah mereka yang rindu dengan orde baru dan kekuatan militer yang anti demokrasi dan gerakan perlawanan rakyat.

Kita, seluruh kaum revolusoner, dan rakyat tertindas. Sudah saatnya sadar, dengan gerakan-gerakan bangkitnya neo-orde baru dan kekuatan militer untuk menghadang mereka, dan mengembalikan mereka ke tong sampah sejarah Indonesia. Jangan terpengaruh dengan issue yang di sebar oleh media massa, tetap fokus pada revolusi demokratik dengan setuntas-tuntasnya untuk kemerdekaan, dan kesejahteraan rakyat indonesia.

#Salam perlawanan....! #panjang umur perlawan..!

Belajar Selagi Muda, Berjuang Selagi Bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment