Sunday, August 7

Bisnis Pendidikan


Kembali jari-jemari ini melakukan sesuatu yang merespon setiap hal-hal yang terfikirkan dalam otak saya, dengan sekian lama saya gak menulis lagi, kini kembali mencoba lagi, meski kata, dan susunan informasi yang saya tuangkan belum rapih menurut para ahli tulis. hehehe, maklum lah karena prinsip saya adalah setiap saat adalah pelajaran. Baik, kali ini saya akan membahas soal pendidikan indonesia, terkhusus pada pendidikan tinggi yang baru-baru ini seluruh perguruan tinggi, baik
perguruan tinggi swasta (PTS), maupun perguruan tinggi negeri (PTN) melakukan rekruitmen mahasiswa baru dari tiga gelombang, gelombang pertama disebut sebagai SBM-PTN yang kedua SNP-TN, dan ketika jalur mandiri, tiga kelombang perekrutan ini hanya terjadi di perguruan tinggi negeri di seluruh indonesia.

Mungkin tidak ada habisnya jika kita membahas suatu masalah di negeri ini, persoalan yang ada pada pendidikan tinggi adalah sebagian kecil dari persoalan besar bangsa ini. namun, sekecil apapun persoalan itu mestinya harus kita tanggapi dan berusaha melakukan sesuatu yang positif, termasuk mengkritik sistem pendidikan yang berjalan, karena kritikan adalah suatu hal yang jika di respon secara positif akan menghasilkan langkah yang positif pula, tetapi jika di kritik dianggap sebagai penghalang maka rusak lah bangsa ini. satu hal yang saya sayangkan pada kabinet pak Jokowi ini yang meresufle beberapa mentrinya dikarenakan gara-gara mengkritik, dan hal ini dianggap sebuah kegaduhan. soal resufle biarlah mereka sendiri yang selesaikan, saya mau fokus membahas soal pendidikan aja, hehehe. kembali pada persoalan pendidikan, dalam beberapa tulisan saya sebelumnya tentang dunia pendidikan yang banyak membahas soal komersialisasi pendidikan, dalam tulisan ini tetap akan menyinggung soal praktek komersialisasi pendidikan, terkhusus pada pendidikan tinggi, baik PTN, maupun PTS.

Beberapa hari ini, perekrutan mahasiswa baru jalur mandiri bergulir, dan didalam perekrutan jalur mandiri memang sudah menjadi hak bagi setiap perguruan tinggi negeri jalankan sebagai perekrutan sesuai dengan aturan perekrutan mereka, dan ini sangat erat kaitannya dengan bisnis perekrutan di pendidikan tinggi negeri, bukan hal yang disembunyikan lagi persoalan ini, praktek korupsi telah lama bergulir di negeri ini contohnya saja yang saya sebut tadi yaitu perekrutan jalur mandiri. dimana praktek bisnisnya? nah, saya akan disini saya akan terangkan bagai orang-orang bandir perekrutan mahasiswa baru ini bermain, saya akan terangkan sebagai berikut.

Dalam pendidikan tinggi negeri yang diberikan hak nya untuk melakukan perekrutan sendiri yang disebut sebagai perekrutan mahasiswa baru jalur mandiri. model perekrutan ini adalah jata bagi para dosen tetap yang ada di perguruan tinggi negeri tersebut, jata ini sesuai dengan tingakat prestasi atau jabatan di perguruan tinggi tersebut, misalnya dosen yang sudah menjadi guru besar, dosen bisa, ketua jurusan, dekan, sampai pada pimpinan tinggi kampus yaitu rektor. masing memiliki jata mahasiswa yang akan di rekrut. hal inilah yang menjadi jalan untuk melakukan bisnis perekrutan, dan masing-masing calon mahasiswa memiliki backing masing-masing, dan tentunya ada harus membayar sekian juta rupia untuk bisa mendapat kan backing untuk masuk sebagai mahasiswa.

Persoalan yang saya sampaikan diatas adalah hasil dari pengalaman beberapa teman saya yang menjadi calo bagi calon mahasiswa baru. standar bayaran yang dikenakan kepada para calon mahasiswa tersebut berpariasi sesuai dengan jurusan yang dipilih oleh si calon mahasiswa baru. ada beberapa jurusan yang memiliki bayaran tinggi seperti Hukum, Ekonomi, Teknik, dan Kedokteran, yang jumlah bayarannya mulai dari 7-20 juta, bayaran ini adalah bayaran untuk bisa masuk di perguruan tinggi yang di idam-idamkan, belum lagi jika sudak lulus dan mau melanjutkan ke tingkat selanjutnya yaitu pendaftaran ulang sebagai mahasiswa, dan uang pembayaran kuliahnya mulai dari 4-15 juta, mungkin akan lebih tinggi lagi dikampus-kampus lain karena sample saya ini hanya satu kampus negeri saja di makassar.

Jadi, untuk bisa masuk sebagai mahasiswa di pendidikan tinggi negeri, orang tua harus menyiapkan uang sogok dan uang SPP yang nilainya sangat tinggi bagi orang tua yang ekonomi nya standar, dan merupakan mayoritas di negeri ini. sangat disayangkan kejadian seperti ini, pendidikan tinggi negeri saja begini, yang katanya di tanggung oleh negara tapi mahal, apalagi kalo kuliah di perguruan tinggi swasta pasti lebih mahal lagi karena banyak pungutan liar (asli bisnis).

Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas di negeri ini sangat jauh dari harapan, karena segalaya berwatak bisnis, sebagian besar dosen hanya mengejar uang dari pada mengajar, sehingga kualitas daripada outcome nya sangat minim, apa lagi jika di sandingkan dengan MEA, pastilah kualitas tenga kerja indonesia akan kalah dengan tenga kerja asing yang marak di negeri ini karena sistem neoliberalisme berjalan dengan sebaik-baiknya karena didukung oleh regulasi yang ada.

Belajar selagi muda, Berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment