Thursday, March 19

Sumber Profil dan Alat Hegemoni

Oleh: Bustamin Tato

Berangkat dari perbincangan dengan salah satu kawan di jejaring sosial mengenai kualitas pendidikan di Indonesia pada era kapitalisme neoliberalisme ini. Kita juga sedikit memperberbincangkan soal durasi kuliah yang tidak begitu efektif, dan banyak mahasiswa menurutku terjebak dalam lingkaran tersebut. Berlama-lama kuliah dianggapnya akan menambah kualitas ilmu pengetahuan didalam kampus, namun itu adalah mitos dan tidak pernah terjadi dalam prakteknya, yang ada malah akan menambah pendapatan dan keuntungan pihak pengelolah kampus, sebagaimana kita ketahui bersama dan mungkin sudah diketahui hamper seluruh mahasiswa yang ada dalam kampus, bahwa pendidikan telah mengarah pada komersialisasi dan kurikulum didalamnya dibawah kekuasaan hegemoni kapitalisme.

Berlamah-lamah dikampus yang katanya mematangkan pengetahuan dan pengalaman, kini tak efektif lagi, mengapa demikian? Itu dikarenakan sisitem pendidikan seperti aku katakan sebelumnya, pendidikan mengarah pada komersialisasi, bukan membuka pengetahuan baru akan tetapi, mengkonstruk pikiran kita tetap dalam lingkaran dan keinginan ideologi kapitalisme. Muncul pertanyaan berikutnya, yah kalo gitu kenapa harus kuliah kalo sisitem pendidikan sekarang ini berbauh kapitalistik? Ini sama halnya ketika orang berkata, yah..karena sisitem kapitalisme itu buruk, jadi kita gak usah memakai/mengkonsumsi produk-produk kapitalisme. Kita juga tidak sampai pada kesimpulan seperti itu, ketika kita membenci kapitalisme, maka kita juga harus membenci produk-produknya, akan tetapi ada batasan-batasan tertentu yang harus kita tolak, seperti akumulasi modal, produksi anarki, eksploitasi, ekspansi Negara dunia ketiga, menghilangkan demokrasi sejati, menimbulkan konflik sosial sampai perang antar Negara, melahirkan sisitem kompetisi yang tidak sehat dan masih banyak lagi yang bisa ditimbulkan dari penerapan sisitem kapitalisme ini. Dari semua hal negative yang ditimpbulkan oleh ideology kapitalisme ini di pertahankan, dan dimapankan dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai alat ideology telah diambil alih oleh kapitalisme jadi, apapun kebijakan dari kapitalisme ini, akan dipertahankan dan dibenarkan dalam dunia pendidikan sebagai pasar barang-barang komoditi, dan juga sebagai lembaga sumber profit.

Pendidikan tinggi di Indonesia dibawah kontrol Negara yang telah kehilangan kedaulatannya karena rezim yang berkuasa, menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan korporasi internasional. Negara-negara imperialis Menjadikan Indonesia sebagai ladang untuk merauk profit yang banyak, dan masyarakat yang cenderung konsumtif, beserta sumber daya alam yang kaya raya. Dengan mengejar keuntungan yang melimpah ruah, penindasan, perampasan hak, penghisapan, diskriminasi, dan lain sebagainya, telah menjadi pemandangan buruk dan kita tidak bisa berbuat apa-apa atas perbuatan semenah-menah para penguasa negeri ini. Mengapa demikian?

Perbuatan semenah-menah itu terjadi dikarenakan lembaga hegemoni telah sepenuhnya dikuasai oleh kepentingan kapitalisme, baik itu politik, ekonomi, bahkan sampai pada persoalan agama telah dikuasai kepentingan kapitalisme melalui bentuk politik tertinggi yang disebut negara. Negara dalam hal ini menjadikan Pendidikan bukan hanya sebagai penyumbang keuntungan yang melimpah kepada kapitalis, tetapi juga dijadikan sebagai lembaga yang terus-menerus mempengaruhi manusia, mengkonstruk pikiran manusia untuk tunduk dan patuh atas apa yang dilakukan oleh kapitalisme, menganggap penindasan, perampasan hak, penghisapan, sampai pada pelanggaran HAM, perang, sebagai hal yang wajar-wajar saja dilakukan.   
Mengejar profit (keuntungan), layaknya barang komoditi yang diperjual belikan dengan menawarkan kurikulum dan pengetahuan yang kemudian akan berbentuk ijaza, begitulah fakta yang terjadi dalam dunia pendidikan. Bukan hanya itu, lembaga pendidikan terkhusus pada pendidikan tinggi di Indonesia, telah bertransformasi menjadi indutri jaza sejak masuknya intervensi asing melalui WTO (world trade organization) organisasi perdagangan dunia 1995 dengan mengelompokkan pendidikan sebagai industri jaza  (khusunya sektor tersier).

Sektor ekonomi tersier mencakup industri-industri untuk mengubah wujud benda fisik (physical services), keadaan manusia (human services) dan benda simbolik (information and communication services). Karena pendidikan dianggap sebagai lembaga yang bergerak untuk mentranformasikan manusia yang tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan, menjadikan manusia yang kurang terampil menjadi terampil, maka pendidikan dikategorikan sebagai sektor ekonomi tersier pada industry jaza.

Ada juga hal yang menarik untuk dibahas dalam sistem pendidikan Indonesia bahkan Negara-negara lain mempraktekkan hal yang sama dalan menjalan pendidikan. Mengubah manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang kurang terampil menjadi terampil. Dalam pendidikan untuk mencapai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, haruslah melalui jenjang pendidikan yang telah disediakan. Jadi dalam logika sederhananya adalah kita, sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi sudah menyumbang kepada kapitalis keuntungan yang besar dalam pendidikan. System pendidikan yang berjenjang ini sangatlah menguras dan tidak efektif dilakukan, tetapi mengapa itu dijalankan?

Pendidikan berjenjang ini adalah salah satu strategi kapitalisme untuk mengklasifikasikan bukan hanya pada strata sosial, tetapi juga penentuan upah bagi pekerja ditentukan dari jenjang pendidikan. Bukan seberapa banyak yang diproduksi oleh buruh, dan seberapa kebutuhannya dalam mempertahankan hidup tapi berdasarkan jenjang pendidikan menjadi salah satu syarat dalam penentuan upah. Buruh yang berpendidikan hanya sampai pada pendidikan dasar (SD) akan mendapatkan gaji dibawah gaji buruh yang berpendidikan dan berijaza (SMP), dan begitu seterusnya. Semakin tinggi sekolah maka akan semakin tinggi uapah yang akan deterimah, begitulah logika yang tertanam dalam masayarakat awam hari ini.

Logika jenjang pendidikan ini, didunia kapitalisme, atau para borjuasi yang ada, tidak mempraktekkan hal seperti itu, mereka telah sadar bahwa pendidikan yang berjenjang ini tidak begitu penting, contohnya saja mentri kelautan dan perikanan ibu puji astuti yang hanya berpendidikan atau berjaza terkhir SMP mampu menjadi mentri dengan gaji yang berpuluh-berpuluh juta, pengusaha apple juga bukan dari pendidikan yg berjenjang ini dan bahkan dikelurkan dari kampus mampu menghasilkan prodak yang laku dipsaran dan  menjadi pengusaha.

Pendidikan kini telah diatur oleh orang-orang yang menginginkan pendidikan sebagai sarana merauk keuntungan, membentuk stratas sosial, sampai pada penentuan upah bagi pekerja melalui jenjang pendidikan yang telah dilaluinya. Perdagangan ijaza sebagai sertifikat yang legal untuk mendapatkan pekerjaan bagi manusia telah diperdagangkan, baik dalam pendidikan maupun diluar pendidikan. Persoalan ini telah menjadi virus, dan seolah-olah itu sudah menjadi hal yang wajar-wajar saja dilakukan. Hal yang wajar-wajar saja ini telah dibangun oleh ideology kapitalisme dan di mapankan oleh beberapa alat ideology seperti lembaga pendidikan, agama, dan sebagainya untuk membentuk, mengkonstruk pikiran manusia bahwa logika, atau ideology kapitalisme sudah tepat dan benar adanya.

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment