Friday, August 15

Keluh Kesa Mahasiswa Pascasarjana

“Berhentilah mengeluh karena, keluh itu pilu”
Sepenggal lirik lagu yang sering di nyanyikan oleh mahasiswa yang selalu melihat sesamanya mahasiswa yang selalu mengeluh tapi, tidak responsive dalam bentuk tindakan apa yang menjadi keluhannya, begitupun kemungkinan yang terjadi pada saya dan teman saya yang juga berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada dimakassar. Keluh kesah yang dikeluhkan teman saya itu adalah soal mata kuliah tambahan yang disebut
dengan kursus. Kursus ini dilaksanakan setiap mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan mengikutinya yaitu, membayar. Minimal pembayarannya adalah Rp 200.000 dan maksimalnya Rp 450.000, setelah itu kita sudah memiliki izin untuk mendapatkan kursusan itu, kursusan itu terdiri dari kursus toefl Bhs. Inggris, macromedia, e-learning,  dan SPSS. Dan dari sekian itu kita sebagai mahasiswa pascasarjana harus melulusi semua kursusan yang telah disediakan, jika tidak, maka tidak diperkenankan mengikuti ujian proposal tesis. Nah, bentuk kelulusan itu di tentukan oleh tutor yang telah dipilih oleh pihak kampus sebagai penyelenggara kursusunan yang merupakan bagian dari aktivitas perkuliahan. Jikan kita tidak bisa melulusinya maka akan kembali membayar sesuai ketentuan dan begitu seterusnya. Inilah yang menjadi keluh kesah para mahasiswa pascasarjana ini.

Perbincangan saya dengan salah satu rekan saya di pascasarjana dengan jurusan yang sama, awalnya saya ketemu dengannya karena saya lagi janjian dengan teman sejurusan untuk membayar uang kursusan, kebetulan teman saya ini ditugaskan di anggatan kami untuk mengurusi keuangan. Tapi waktu itu teman saya ini tidak berada dikampus karena jam janjiannya sudah lewat dan dia kembali pulang, nah, datang teman saya satu juga dengan maksud yang sama untuk membyar uang kursus dan uang seminar yang akan diselenggerakan oleh pihak kampus. Mulailah kami bercerita tentang kursusan. Berawal dari kasus teman kami juga yang kebetulan bertanya apakah mahasiswa yang telah mengikuti kursusan tidak akan membayar lagi jika ingin mengikuti kembali karena tidak lulusan dari kursusan yang telah dipilih, jawaban dari pihak pengawai yang mengurusi masalah ini menjawab bahwa mahasiswa yang tidak lulus dan ingin mengulang kembali kursus maka akan diwajibkan membayar ulang, jjika tidak ingin boleh ikut ujian tanpa mengikuti aktivitas kursus dan kelulusannya tidak dijamin. Teman saya yang menanyakan soal ini langsung putus asa karena dia juga tidak lulusan dari salah satu kursusan yang telah di ikutinya. Maka uang yang telah dipake untuk membayar itu sama memberikan uang secara Cuma-Cuma, mengapa? Karena jangka waktu kursus hanya 1 minggu itupun tak maksimal, maka apa yang didapat 1 minggu kursus?

Dari kasus teman saya inilah yang menghebokan cerita kami di sela-sela menunggu teman yang akan datang juga. Teman saya mengatakan bahwa kursusan yang diselenggarakan kampus ini untuk mahasiswa pascasarjana sangat memberatkan mahasiswa, karena tidak ada jaminan kelulusan dari kursus tersebut, dan ini membuat hambatan nantinya ketika sudah masuk waktunya untuk penyusunan tesis, ditambah lagi dengan uang pembayaran kursus ini, jika semisalnya kita tidak lulus empat kali maka kita akan membayar empat kali juga sebanyak 400 ribu, jika dijumlahkan 4 kali x Rp 400.000 = Rp 1.600.000 ini hanya satu kurususan bagaimana jika semuanya tidak dilulusi maka akan mencapai 5 jutaan uang yang harus disediakan, untung saja kalo mahasiswa itu sudah ada pekerjaan. Dan kasus diatas sudah terbukti pernah terjadi.

Bukan hanya itu persoalannya, persoalan yang lain misalnya jika sudah tahu kursus itu tapi kita tetap akan di berikan kewajiban untuk mengikutinya. Jadi tujuan untuk mengetahui sesuatu itu telah gugur dan akumulasi pembayaran mahasiswa terjadi dengan Cuma-Cuma. Ada satu kasus yang terjadi di teman saya juga, ketika itu kita mengikuti kursusan soal e-learning, beberapa teman saya ini sudah jago dalam hal ini, bahkan dia salah satu programmer yang merancang soal ini tapi, mau tidak mau dia harus juga ikut dalam kursus ini dan wajib membayar, setelah selesai 1 minggu, teman saya ini dinyatakan tidak lulus dari kursus ini dan akan diwajibkan kembali mengikuti kursusan ini, miris.., orang sudah paham kok tidak lulus dikarenakan persoalan prosudural yang tidak dilengkapi, apakah pengetahuan seseorang di tentukan dengan prosudural kaku itu? Saya kira tidak tapi, itulah kenyataan yang terjadi di perguruan tinggi negeri yang orientasi kampusnya adalah pendidikan.

Jika di fikirkan dengan akal sehat, kita sudah bisa menyatakan bahwa bentuk pendidikan ini adalah konyol dan syarat akan komersialisasi dengan mengatas namakan pendidikan. Mungkin kawan-kawan yang membaca tulisan curhat ini akan tidak sepakat pula dengan kebijakan kampus seperti ini. aktivitas perkuliahan hanya sebatas formalitas saja untuk mendapatkan ijaza, namun mendasarnya adalah komersialisasi pendidikan itu yang terjadi, miris. Semua mahasiswa mengeluh tapi, hanya sebatas mengeluh. Tidak ada tindakan real yang dilakukan untuk mengubah kebijakan komersil ini. dan sampai sekarang masih berjalan. Dan jika dihitung-hitung keuntungan yang didapat pihak kampus sangat tak terhitung banyaknya dari sekian ribu mahasiswa pascasarjana. Ini keluh kesah yang memilukan dan memprihatinkan.     


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment