Saturday, July 19

PUISI: JALAN BERKABUT





Diatas pijakan planet bumi dibawah naungan langit
Perjalanan hidup dengan kepalan di tangan kiriku palu dan arit
Melawan dominasi ideology dan penyembah berhala manusia2 parasit
Jalan hidup penuh dengan kabut-kabut tanpa mata memandang pembantaian
Sehingga menggangu kesejukan otak kiri
Memandang musuh yang tak begitu jelas
Memegang setiap nafas manusia yang tanpa tangan bisa menggapai,
Tanpa kaki bisa berpijak
Tanpa mata mampu memandang
Tanpa telinga dia mendengar
Setiap celoteh kebenaran
Kebenaran dalam setiap kitab-kitab langit yang telah usang
Mendukung kebenaran tirani penghisapan
Sebagai panduan kebenaran dalam kesesatan kesetanan
Arah hidup penuh dengan kabut-kabut putih
Membuka mata dengan fikiran yang berbeda
Menganggap kematian tak wajar sebagai siklus alam
Siapa yang bertahan hidup dialah sang pualam
Mengabaikan setiap keheningan malam tanpa keindahan bulan sabit
Pancaran purnama dengan naungan srigala begis
Neungan perang sebgai keharusan sejarah manusia berkabut
Puing-puing kehancuran yang rata dengan tanah
Sehingga langkah ini sejanak menata
Berfikir tanpa tujuan dan arah
Hanya kabut-kabut dan manusia2 penghisap darah
Darah manusia tak berdosa

Dengan hidup tanpa arah, tanpa kesadaran tanpa perlawanan
Perlawanan bertahan hidup memperjuangkan kebenaran
Kebenaran tanpa terbungkus bualan perdamaian
Kabut-kabut kita singkirkan
Kita terangi dengan pandang dan fikiran
Fikiran menentang kehausan manusia penghisap darah   
Jalan kabut yang telah buntut
Tak ada kata yang bertekuk lutut
Yang ada Hanyalah jalan berkabut
Didalam dunia tanpa sudut
Hanya kemungkinan untuk kita mungkinkan
Sehingga sejarah sebagai pedoman
Sebagai jalan terang dari kabut sejarah
Distorsi telah terkikis erosi kebenaran
Dan kebohonganpun terbongkar tanpa ampun

“SEKIAN”
 


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment