Saturday, July 19

Pendidikan Indonesia Mengarah Pada Komersialisasi

Membahas pendidikan indonesia mungkin tidak ada habisnya, dari tahun-ketahun banyaknya tulisan kritis yang kita dapat di beberapa media internet dan terbitan buku. Namun, dari semua informasi itu, mungkin sedikit rakyat indonesia yang mayoritas buruh tidak sempat membaca dan menganilisa semua itu, jangankan waktu luang untuk baca buku, waktu luang untuk ngumpul dengan keluarganya saja sedikit begitulah gambaran klas pekerja di Indonesia maupun diluar indonesia. Dan bukan hanya buruh, pemuda sekrangpun jangankan membaca buku, melihatpun enggan. Ini dikarenakan oleh gencarnya hegemoni kapitalisme dengan ekonomi politik konsumerisme-nya telah menjarah kedalam otak pemuda bahkan sampai pada masyarakat umum sejak dini.

Jadi, persoalan memajukan kesadaran secara hakekat sulit untuk dilakukan dan ditambah lagi dengan sistem negara yang meng-suport ideologi-ideologi yang menina bobokan kesadaran masayarakat. Pandangan kritis yang kian banyaknya kita dapat, itupun tak dapat diterima secara tindakan oleh masyarakat secara umum dengan intimidasi melalui jalur pendidikan seperti soal anak mereka kemungkinan besar tidak mendapat tempat untuk mengeyam ilmu pengetahuan pada sekolah-sekolah dibawah naungan negara. 

Masa bodoh, itulah pemikiran banyak masyarakat melihat kesewenang-wenangan, dan ke-tidak adilan para penguasa dinegri ini. Melawan yang memiliki uang banyak adalah hal mustahil bagi  orang miskin lakukan, meskipun mereka mayoritas di negeri ini. Karena dengan uang mereka bisa saja tidak memberikan mereka kesempatan untuk mengunyah makanan. Ketakutan inilah yang harus kita hilangkan dari pemikiran banyak masyarakat, jika dibiarkan maka perubahan untuk melangkah kepada sistem yang lebih baik sangatlah sulit. Karena dalam pemikiran maju, dan dalam sejarah revolusi ummat manusia itu bersumber dari kaum yang tertindas, nah, merekalah kaum tertindas itu dan arah masa depan yang lebih baik.

Berbicara tentang arah pendidikan, Jika kita melacak konsep pendidikan, hal ini telah ditegaskan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2004 bahwa, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujdkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Maksud dari konsep pendidikan tersebut, adalah bahwa pendidikan bukan semata-mata usaha seorang warga negara untuk memastikan dirinya secara individual dapat memenuhi kualitas hidup yang lebih baik, melainkan juga ada dimensi etik dan transformasi sosial di dalamnya. Namun, isi dalam Undang-undang tersebut hanya sebatas kutipan hukum yang tidak pernah direalisasikan dalam kehidupan pendidikan, baik itu dalam kehidupan pendidikan dasar, sampai menengah atas, maupun kehidupan kampus.

Kemarin, saya mengikuti kuliah umum dikampus saya Universitas Negri Makassar Pascasarjana, Salah satu pembicara/dosen mengatakan bahwa, motede negara-negara tetangga indonesia, sangat kreatif dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Motode yang dilakukan, (lanjut pembicara) adalah mengirim warganya untuk mengenyam pendidikan diluar dari negaranya tersebut untuk mengenal berbagai macam persoalan yang ada kemudian meramunya dalam suatu teori yang siap untuk diterapkan di masing-masing Negara dimana dia berasal. Maksudnya adalah dukungan pemerintah atas pendidikan sangat besar di negeri tetangga tersebut. Jika kita bandingkan dengan pendidikan di negeri kita, dimana hanya 20% warga negara yang mengenyam pendidikan diluar negeri, itupun setelah mereka selesai sekolah, pemerintah tidak menggunakan keahlian para sarjana-sarjana yang lulus di luar negeri untuk kembali membangun negara indonesia khususnya pendidikan. 

Setelah disahkannya UU Pendidikan Tinggi yang berorientasi pada kepentingan industri jasa (kapitalis). Karena selama ini pihak asing mengangap bahwa indonesia dengan populasi masyarakatnya sangat tinggi sehingga potensi untuk membangun industri sektor jasa sangat memungkinkan, maka kita jangan heran ketika pembayaran pertahunnya pasti naik. Karena model pendidikan dinegri ini bukan pencetak ahli-ahli yang profesional dalam bidangnya masing-masing tetapi pendidikan di negri ini adalah semata-mata mengejar profit kapital dari sektor industri jasa yang mengelola itu semua.

Pendidikan pada zaman penjajahan yang mengorientasikan pendidikan pada kemajuan sumber daya manusia dalam mengelolah alam dan menjalankan mesin-mesin produksi. Karena pribumi sangat tidak cakap dalam mengaplikasikan teknologi mesin produksi maka di ciptakanlah pendidikan di nusantara (politik etis). Pendidikan dinusantara mulai dari kelas satu sampai kelas tiga (khsusu sekolah pribumi) sedangkan untuk sekolah para anak priayi diperuntuhkan untuk manajemen dan adminitrasi sehingga pendidikannya sampai pada pendidikan tinggi, dan ditambah lagi fokusnya pemerintah khususnya mendigbud dalam peningkatan sekolah menengah kejuruan 70 SMK dan 40 SMA sampai tahun 2015  yang berorientasi pada dunia usaha dan dunia industry yang tentunya lahirnya konsep ini berlandaskan pada pendidikan belanda pada masa penjajahan.
     
Bagaimana Arah pedidikan Indonesia?

Sedikit sudah dibahas diatas tentang arah pendidikan khususnya di Indonesia, dimana pendidikan kita yang berlandaskan pada undang-undang dasar 1945 dan UU sisdiknas dan lahir undang-undang baru tahun 2012 mengenai pendidikan tinggi yang sebelumnya adalah Undang-undang Badan Hukum Pendidikan. Nah, dari lahirnya undang-undang baru itu mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia ber-orientasi industry jasa yang tentunya akan menguntungkan segelintir orang dalam pengkomersialisasian pendidikan dengan legal hokum UU-PT 2012.

Berangkat dari pendidikan pada masa Kolonial belanda dimana pada masa itu system politik etis diterapkan di nusantara (hindia belanda) yang ber-orientasi pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang ahli dan tahu menjalankan mesin produksi dimana krisis ekonomi melanda belanda pada saat itu karena terkuras habis melawan pangeran dipenegoro yang tidak ingin diganggu daerah kekuasaannya. Wajah pendidikan pada masa itu adalah bagaimana lulusan dari pendidikan tersebut mampu menutupi khas pemerintah belanda dari krisis, bukan untuk bagaimana memajukan sumber daya manusia secara kritis dan kreativ dan mampu membangun Negaranya sendiri tanpa adanya intervensi Negara asing, tapi itu tidak terjadi, pribumi nusantara hanya di jadikan sebagai kerbau yang siap kerja demi keuntungan penjajah belanda.

Konsep tersebut itu yang kemudian menjadi pondasi pemerintah hari ini dalam membangun sekolah menengah kejuruan seperti yang telah di jalankan oleh pemerintah belanda pada masa penjajahan belanda ke bumi nusantara (Indonesia), dengan menjadikan rakyatnya menjadi kerbau yang dipekerjakan layaknya budak akan kembali terjadi, kita bisa melihat realita di dunia kerja dimana upah buruh tak sampai pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari hanya sampai pada bagaimana bisa bertahan hidup untuk bekerja kembali esok harinya. Tak ada biaya untuk mecerdaskan anak-anak mereka, menyekolahkan anak-anak mereka, itu tidak akan pernah terjadi dalam dunia kapitalisme saat ini.

Arah pendidikan di Indonesia akan mengarah kembali pada penjajahan atas rakyatnya sendiri diatas kerakusan system kapitalisme dalam mengusai social-budaya, ekonomi, politik, agama dan segala bentuk-bentuk kehidupan umat manusia harus dikuasai demi mengejar keuntungan semata, memperkaya diri sendiri. Arah pendidikan dibawah kontrol ideology kapitalisme hanya dieruntuhkan kepentingan system kapitalisme, begitupun jika sosialisme berkuasa maka akan bertujuan untuk kepentingan massa rakyat pekerja dan memberikan kekuasaan di tangan rakyat dalam social-budaya, ekonomi politik bahkan samapai pada agama dan kebebasannya. Jika kita tidak merebut alat-alat hegemoni kapitalisme (pendidikan) maka ideology kapitalisme akan mengakar kembali pada otak-otak manusia. Lawan Atau Mati Tertindas!

Makassar 19 juli 2014

Oleh : Bustamin B
belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment