Thursday, December 12

Ada Apa Dengan Gerakan Mahasiswa Kekinian?

Gerakan mahasiswa selama ini (konteks indonesia tentunya) masih dalam keterburukan baikdari tingkat kampus maupun secara umum mahasiswa di negara ini (mahasiswa dalamhal ini sebagai kaum intelektual). dimana tidak adanya keseriusan dalammembangun gerakan mahasiswa yang militan dan mempuanyai keterhubungan denganorgan-organ lainnya baik organ antara mahasiswa maupun organ secara luasseperti organisasi serikat buruh, petani, dan masayarakat kaum tertindaslainnya atas sistem kapitalisme.

Berbagai peristiwa-peristiwalahir dianggap suatu yang wajar ketika bermunculan dalam kondisi saat ini,sulitnya orang mencari sesuap nasi untuk melanjutkan hidup, mencari pekerjaan,menempuh pendidikan yang layak, gratis, demokratis dan bervisi kerkyatan adalahsalah satu diantara sekian banyak persoalan yang mendorong kekecewaan publik,belum lagi peristiwa Korupsi-Kolusi-Nepotisme yang merajalela bahkan telahmenjadi budaya birokrasi negri ini. Rezim pasar bebas, yang kemudian perannegara secara perlahan-lahan digantikan oleh lembaga-lembaga asing yang sudahjelas hanya mencari profit dari sumberdaya alam negri ini sperti, World Bank,WTO, TNC/MNC, yang semua mereka rancang habis-habisan untuk keuntungannya tampamemikirkan kerugian bangsa kita, yang ditaksir lebih dari satu teriliunanperjam.

Dari sejarah pergerakankemerdekaan indonesia 1945 tidak bisa dipungkiri bahwa karya daripada gerakanmahasiswa (yang pada saat itu masih menggunakan nama pemuda) sebagai salah satupenentu dalam proklamasi kemerdekaan indonesia dengan memaksa soekarno danhatta untuk mem-proklamasikan kemerdekaan Republik Inodnesia 17 Agustus 1945.Kita tidak hanya memulai keberhasilan gerakan mahasiswa/pemuda dari pascapenculikan Soekarno dan Hatta tentang gerakan mahasiswa, jauh sebelum itusetelah masuknya negara-negara penjajah yang kemudian memberikan kesempatanpada kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan yang dikenal sebagai politik etis(politik balas budi) sebut saja pergerakan nasional Boedi Oetomo 1908 danPemuda 1928, maka lahirlah intelektual-intelektual yang dengan kesadaran sebagaiwarga negara yang sedang dijajah oleh bangsa lain seperti tanmalaka, soekarno,hatta, syahrir dan masih banyak lainnya yang mungkin sudah tidak asing lagibagi pendengaran kita.

Lahirnya kaum intelektualini yang tidak bisa terlepas dan memang sudah seharusnya membangun kekuatanbersama dengan elemen-elemen, organisasi-organisasi (masyarakat yangterorganisir) lainnya untuk membangun gerakan perubahan, maka muncullahpemberontakan-pemberontakan rakyat pada waktu itu. Pada tahun-tahun pascakemerdekaan, organisasi mahasiswa telah banyak dijumpai di internal kampusmaupun eksternal kampus dan sampai pada afiliasi sebuah organisasi mahasiswa kesalah satu partai/organisasi politik yang ada seperti CGMI ke partai PKI, GMNIke partai PNI dan situasi sekarang juga masih berlaku misalnya: GMNI ke PDI P,PMII ke PKB, KAMMI ke PKS, IMM ke PAN dan organisasi-organisasi mahasiswalainnya.

Mahasiswa yang dikenalsebagai penyambung lidah rakyat masih sibuk bergelut dalam ruang lingkupinternalnya masing-masing, terperangkap dalam tempurung dengan menjalankanaktifitas yang kadang tidak produktif serta bersifat pragmatis, elitis,Eksklusif apalagi diantara mereka asyik dalam membuat kesibukan kompetisisesama kawan sendiri yang semestinya dijalani dengan program bersama, sehingga suatukeniscayaan jika gerakan mahasiswa sebagai insan intelektual terkungkung dalamarogansi organisasi, serta tegas dalam kritiknya sebagai harimau forum, tergantikandengan kecenderungan yang baru, sebagai elit beringasan yang kini tak bertaringlagi. Pertanyaan yang sekiranya muncul adalah sebuah retorika yang tidakterlalu membutuhkan jawaban teoritis namun justru membutuhkan kerja praktis dankongkrit Posisi dilematis memang sedang dihadapi oleh kalangan gerakan prodemokasi terutama gerakan mahasiswa yang sedang dalam keadaan ironis. Perubahankonstelasi politik yang berubah cepat hampir setiap sepersekian detik, sangatmempengaruhi kajian dan analisa dari gerakan mahasiswa dan secara tidaklangsung sangat mempengaruhi kinerja dari gerakan mahasiswa. Secara tidaklangsung kemudian timbul sebuah pertanyaan dalam benak kita apa yang harusdilakukan oleh gerakan mahasiswa ditengah kancah permainan dan manuver borjuasinasional ini? dan semakin sulitnya gerakan mahasiswa menemukan jalan persatuandengan menyatukan program bersama, dengan tujuan yang sama yaitu anti tehadapkapitalisme, dan menyujudkan kekuasaan negara atas kaum tertindas.

Dari perjalanan gerakan mahasiswaakan memunculkan dua pertanyaan mendasar yaitu: apakah gerakan mahasiswamelebur kedalam gerakan rakyat seperti organisasi serikat buruh, tani, nelayan,dan kaum tertindas lainnya, ataukah gerakan mahasiswa ini kembali kedalamkampus untuk mengorganisir sesama-nya mahasiswa yang dengan kesadaranberlawannya belum terbangun, dengan strategi kaum mahasiswa yang sadar akanpenindasan memasuki UKM-UKM kampus dan lembaga-lembaga kampus seperti BEM,Himpunan Mahasiswa dan lain sebagainya, kemudian mengkonsilidasikan diri.? Daridua pertanyaan tersebut mana yang harus dilakukan oleh kaum intelektual ini..?dengan pikiriran dasar saya mengenai dua garis bersar dalam gerakan, pergerakanrakyat dan mengepung kampus adalah suatu gerakan secara bersamaan yang seharusnyadilakukan oleh kaum intelektual yang mempunyai waktu luang banyak soalpembangunan kesadaran dan waktu luang berfikir yang banyak pula.

Mahasiswa harus meleburkedalam basis-basis massa rakyat, menyadarkan massa luas, dan sekaligusmengorganisir mahasiswa-mahasiswa dalam kampus untuk keluar bersama rakyatuntuk menghapus tirani rezim anti demokrasi ini. Namun amat sangat sulitdilakukan jika mahasiswa membuat garis demarkasi antara massa rakyat yangberlawan dengan massa mahasiswa yang berlawan karena kesadaran bahwa dasar darisemua perubahan adalah massa rakyat (kaum buruh, tani, nelayan, dan massarakyat tertindas  lain-nya) itu tidakterjadi dalam gerakan-gerakan mahasiswa. Menarik kelua rmahasiswa adalah suatukeharusan yang tak terelakkan lagi. Dengan banyaknya kebijakan pihak kampusjuga akan memaksa mahasiswa-mahasiswa yang kritis ini keluar mengorganisirtetapi tidak mengabaikan kerja-kerja dalam kampus itu sendiri untukmeninggalkan asal mereka yaitu kampus.

Dari pertanyaan bahwamahasiswa harus Kembali Ke Sektor Kaum Buruh dan Rakyat Tentunya akan adapertanyaan lanjutan dari pernyataan ini. Diakui atau tidak bahwa rakyatlah yangpaling menentukan dalam proses perubahan bangsa ini, dan gerakan untuk kembalike rakyat harus dimulai dalam upaya membangun kesadaran politik di kalangan msyarakatbawah “grass root”.

Penyadaran itu dapat dimulaidengan mengadakan pendampingan-pendampingan pada daerah berkasus seperti kasusyang dialamai kaum buruh dipabrik, kaum tani di lahan pertanian, nelayan. danini sangat signifikan untuk dilakukan karena pada dasarnya jiwa perlawanan adapada setiap manusia yang mengalami penindasan secara langsung. Namun perluditegaskan disini, pendampingan sekaligus penyadaran politik bukan berartidatang dan terus menjadi malaikat. Kesadaran yang dibangun bukan denganmemberikan pendidikan sistematis ataupun pendidikan ala bankir, dimanamasyarakat hanya menerima dan dijejali dengan teori tertentu sebagai upayapenyadaran hak sebagai warga negara, namun yang lebih mendasar adalahmemberikan penyadaran tentang hak mereka dan selanjutnya menempatkan masyarakatini sebagai subyek dari proses pendidikan ini.

Pendidikan ini dikatakanberhasil apabila masyarakat sudah bisa melepaskan diri dari sikap fatalismenyadan mempunyai mobilitas yang tinggi serta secara aktif terlibat dalam sistempolitik. Penumbuhan kesadaran ini sangat efektif untuk mencegah terjadinyabahaya laten kerinduan terhadap Orde Baru dan juga hegemoni rezimkorporatokrasi, pada akhirnya pendidikan ini berupaya untuk membuat rakyatmemiliki, Goldman, kesadaran riilmelalui kesadaran yang sangat memungkinkan (Paulo Freire) yang merupakan intidan dasar dari sebuah revolusi.

Kemudian pertanyaan bahwamahasiswa harus Kembali Ke Kampus, Bukan berarti bahwa gerakan kembali kekampus disini sama dengan gerakan NKK/BKK, tapi berupa penilaian dan refleksiyang sangat obyektif dalam memandang arah dan pola gerakan mahasiswa. Berkacadari gerakan mahasiswa di daratan Eropa dan Amerika Latin tahun 60-an, dimanasebagian besar gerakan rakyat tumbuh dari akumulasi gerakan/ gejolak dalamkampus. Ini seharusnya menjadi acuan yang sangat mendasar bagi pola gerakan dinegara dunia ketiga khususnya Indonesia.

"Kembali kekampus" bukan berarti mahasiswa untuk seterusnya menjadi kutu buku, namungerakan ini harus mulai membangun kekuatan untuk sebuah revolusi pendidikan. Mautidak mau harus diakui bahwa menyurutnya gerakan mahasiswa juga sebagai akibatdari sistem pendidikan Indonesia yang sangat menindas. Kondisi ini yangsekarang harus mulai didobrak oleh kalangan pro demokrasi, dan ini telahdilakukan oleh sebagian besar kampus di Indonesia, namun semua ini barulah padatahapan permukaan belum pada tataran yang lebih substansional.

Penyadaran tentang hakpolitik mahasiswa dan pemahaman tentang penindasan negara melalui sistempendidikan harus mulai diinjeksikan kepada kalangan massa rakyat, mahasiswasebagai upaya membangun kekuatan dan konsolidasi menghadapi manuver kaumborjuasi nasional. Sehingga dalam kurun beberapa waktu kedepan bukan sekadarsegelintir aktivis mahasiswa tetapi akan tumbuh ratusan bahkan ribuan mahasiswayang siap untuk melakukan perubahan.

Dua hal ini sekiranya yangharus dilakukan oleh gerakan mahasiswa ditengah permainan elit politik sekarangini. Dengan mempertimbangkan situasi nasional dan psikologis rakyat yang sudahmulai jenuh dengan perjalanan reformasi total yang belum tuntas dan memang akansulit tuntas jika persatuan dan pemblejetan atas sikap borjuis nasional danpemerintah nasional berselingukuh dengan para pemodal asing, sudah seharusnyagerakan mahasiswa mengubah pola gerak yang ada, namun tetap harus disesuaikandengan kondisi tiap daerah tertentu. Namun begitu disadari bahwa kondisigeografis Indonesia yang sebagian besar dibatasi oleh lautan, tidakmemungkinkan melakukan gerakan seperti mahasiswa di belahan Amerika Latin danEropa dengan pola bola saljunya.

Tetapi terciptanya pandanganatas musuh bersama (common enemy)dikalangan gerakan mahasiswa terutama di kalangan gerakan mahasiswa yangradikal sudah semestinya dilakukan untuk sebuah gerakan yang masif. Denganmelakukan penyadaran di multi sektor yang sma merasakan penindasan, maka suatusaat dalam sebuah momentum politik yang tepat, maka diyakini akan timbul sebuahperlawanan dari rakyat yang sadar.
Membangun kekuatan dimanarakyat melakukan perlawanan bukan atas dasar ajakan tetapi lebih karena sadarakan adanya ketertindasan. pendidikan adalah sebagai praktik pembebasankeyakinan akan massa yang sadar dan keyakinan akan sebuah pendidikan pembebasan, (Paulo Freire). maka sudah seharusnyagerakan mahasiswa tidak ragu-ragu lagi dengan gerakan penyadaran danpengorganisiran massa.

Ditulis oleh:Bustamin Tato, anggota: Front Mahasiswa Demokratik-Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan (FMD-JGMK) Makassar


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment