Wednesday, April 3

Perjuangan Sejak Dini Forum Komunikasi Siswa Progresif ( FKSP )

Manusia adalah penguasa atas dirinya, dan karena itu fitrah manusia adalah menjadi merdeka, menjadi bebas. Ini merupakan tujuan akhir dari upaya humanisasi umat manusia. Humanisasi, karenanya juga berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi-situasi batas yang menindas diluar kehendaknya. Kaum tertindas harus memerdekakan dan membebaskan diri mereka sendiri dari penindasan yang tidak menusiawi sekaligus membebaskan kaum penindas dari hati nurani yang tidak jujur melakukan penindasan. Jika ,asih ada perkecualian, maka kemerdekaan dan kebebasan sejati tidak akan pernah tercapai secara penuh dan bermakna
(paulo freire: politik pendidikan[1]).

Problem Pendidikan

Dalam pembukaan UUD 1945 Alinea IV  “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,……..”. Berdasarkan kutipan ini, salah satu tujuan Negara Republik Indonesia ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Founding People  telah merumuskan tujuan negara tersebut bersama dengan konstitusi tertulis Indonesia. Menurut tujuan negara tersebut jelas terlihat bahwa pendiri bangsa memiliki komitmen yang kuat dalam bidang pendidikan. Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan aspek penting untuk meciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas serta berkontribusi bagi pembangunan negara dan juga dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari rumusan ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang penting sehingga diperlukan adanya sistem yang dapat mengakomodir fungsi dan tujuan agar tercipta sinergitas antara fungsi dan tujuan tersebut.

Realita pendidikan di Indonesia saat ini menunjukkan adanya proses pembaharuan sistem secara berkelanjutan. Mulai dari standardisasi nilai Ujian Akhir Nasional sebagai momok yang sangat menakutkan bagi para pelajar/siswa hingga kebijakan penerapan otonomi kampus di Perguruan Tinggi dengan mengeluarkan Undang-Undang Perguruan Ttinggi (UU PT) yang disahkan pada 13 Juli 2012 merupakan bentuk usaha pemerintah untuk mengkomersialisasikan dunia pendidikan, mengutif kata Michael W. Apple Pengetahuan telah menjadi sejenis modal yang dikelola dan didistribusikan oleh institusi pendidikan kepada anak didik sebagaimana institusi ekonomi mengelola modal finansial”, Terkait dengan sistem pendidikan di Indonesia yang masih berorientasi pada nilai akhir, maka konsep “pendidikan kritis” oleh Paulo Freire ini dapat merubah paradigma pendidikan tersebut. Perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada nilai agaknya perlu diikuti dengan perubahan sistem yang lebih “humanis” dan berkeadilan karena mengingat kembali bahwa tujuan yang diemban negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada akhirnya, pendidikan tak hanya dimaknai sekedar ajang mencari nilai bagus dan ijazah sebagai bentuk legitimasi. Namun lebih dari itu, pendidikan adalah suatu proses untuk memanusiakan manusia dan membentuk manusia yang beradab dan berkontribusi bagi peradaban bangsa[2]. Tetapi, Semua sistem yang hari ini berusaha diterapkan pada dunia pendidikan di Indonesia menimbulkan berbagai fenomena unik, mulai dari penolakan keras hingga kritik terhadap sistem tersebut. Pendidikan gratis yang siserukan para pemimpin bangsa ini hanya menjadi bahan kampanye pemenangan dalam pemilihan calon pemimpin, seperti yang terjadi di makassar banyak kasus yang menjelaskan betapa bobroknya sistem pendidikan hari ini seperti yang ada dalam terbitan media FAJAR tahun kemarin sebagian warga berdemonstrasi mendatangi kantor balai kota karena kasus anak mereka yang lulusan dalam ujian masuk sekolah tetapi kemudian mereka disuruh membanyar uang aman sebanyak 3 juta/siswa, ini hanya satu sample dari ribuan kasus yang terjadi didunia pendidikan kita di daerah-daerah lain, ironis.[3]

Dari sekian banyaknya problem dunia pendidikan kita yang tanpa adanya bentuk perlawanan secara terorganisir dan memiliki tujuan dan solusi dari banyaknya persoalan dalam dunia pendidikan kita, Dalam pandangan kritis, tugas pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap sistem dan “ideologi dominan” yang tengah berlaku di masyarakat, menantang sistem yang tidak adil serta memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju suatu masyarakat yang adil. Dengan kata lain, tugas utama pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami “dehumanisasi” karena sistem dan struktur yang tidak adil.Konsep yang coba untuk dituangkan oleh Paulo Freire, seorang pemikir berkebangsaan Brazil adalah “proses pendidikan Sosial”. Dalam hal ini, sistem pendidikan menempatkan pelajar sebagai subjek bukan objek. Sedangkan realita sosial yang terjadi di sekitar dijadikan sebagai materi pembelajaran. Proses ini mengantarkan terwujudnya dialektika dan kesadaran kritis dari tiap individu.   , maka dari itu forum komunikasi siswa progresif berinisiatif untuk melakukan kerja-kerja penyadaran kepada seluruh pelajar siswa maupun mahasiswa untuk melakukan perlawanan terhadap sistem pendidikan yang semakin membodohi ini.[4]

Pelajar/Siswa Berlawan

 Sebagai aktivitas, bentuk apapun itu dalam pendidikan didunia, bukan hanya pada tataran para mahasiswa yang merasakan pembodohan dan siap berlawan atas sistem pendidikan yang menindas tetapi, terdapat juga pelajar/siswa yang masih dibangku sekolah menengah bawah dan menengah atas yang harus ikut serta sebagai generasi dini perlawanan pembebasan manusia dari kungkungan hegemoni individualistik yang di ajarkan di setiap mata pelajaran disekolah. Ada apa dengan para pelajar/siswa ini ??. pelajar/siswa sebgai generasi dini manusia-manusia yang akan menghuni dan menjalankan sistem masyarakat didunia, harus sejak dini pula di suntikkan kesadaran dari kesadaran subjektif semata menuju pada kesadaran objektif. Tetapi, lagi-lagi dengan kepentingan segelintir orang yang menginginkan keuntungan dari sektor pendidikan dan mengolah pemikiran manusia menjadi kesadaran budak yang sabar dan selalu patuh pada tuannya.

Perkembangan perlawanan pelajar/siswa dalam sejarah pembebasan manusia atas sistem dominasi hegemoni kaum penguasa dalam sistem pendidikan sebagai wadah pembentukan karakter dan ideologi manusia. Kita bisa melihat kejadian yang ada di negara lain seperti chili untuk melihat gerakan perlawanan para pelajar terhadap pengkomersialisasian pendididkan, gerakan ini sangatlah besar dan sangat berpengaruh sistem perpolitikan di negara tersebut. Protes dana pendidikan di Chili kembali pecah, aksi tersebut juga diikuti dengan mogok makan yang dilakukan sejumlah pelahar, unjukrasa yang rutin selama dua bulan terakhir membuat kegiatan belajar terganggu.

Para pelajar yang menggelara aksi anarkis di ibukota Santiago Chili ini mempersenjatai diri dengan bom molotov, dalam aksinya para pelajar meminta penambahan dana pendidikan untuk sekolah negeri, para pelajar juga meminta sekolah agar dibebas biayakan. Sementara menteri pendidikan Chili Felipe Bulnes berjanji pekan depan akan membahas reformasi pendidikan, kericuhan saat demo pendidikan berlangsung menjadi kegiatan rutin para pelajar, akibat aksi para pelajar inilah kegiatan belajar disekolah nyaris lumpuh.[5]     

Bersambung......!



[1] Politik Pendidikan (kebudayaan, kekuasaan dan pembebasan) paulo friere

[2]Undang-undang pendidikan tinggi dan situasi gerakan mahasiswa

[3] Media Fajar 2010 (mahalnya pendidikan gratis)

[4] Sistem Pendidikan di Indonesia dalam Kacamata “Pendidikan Kritis”

[5] http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17068&Itemid=6


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment